Dari Visa Student Langsung ke Highly Skilled Professional — Privilese Seorang Doktor
Sepanjang seri ini saya jujur bahwa gelar S3 justru menyulitkan pencarian kerja saya. Artikel ini adalah sisi lain dari neraca itu: momen ketika gelar S3 membayar lunas semuanya. Saat tiba waktunya mengganti status izin tinggal untuk bekerja, saya tidak mendapat visa kerja biasa. Saya melompat langsung dari 留学 (Student) ke 高度専門職1号ロ — Highly Skilled Professional 1(b).
Kalau kamu pembaca lama, mungkin masih ingat cerita pergantian visa pertama saya dari masa S2. Yang kali ini berjalan sangat berbeda — ke arah yang baik.
Apa Itu 高度専門職1号ロ
Highly Skilled Professional adalah visa berbasis poin dari Jepang untuk — sesuai namanya — tenaga profesional asing berkualifikasi tinggi. Statusnya membawa keuntungan nyata dibanding visa kerja standar: perlakuan imigrasi yang diprioritaskan dan jalur menuju permanent residency yang lebih cepat, di antaranya.
Kebanyakan orang mengira status ini baru bisa didapat setelah bertahun-tahun bekerja. Ternyata tidak harus. Kalau poinmu memenuhi, kamu bisa mendapatkannya sebagai status kerja pertamamu, langsung begitu keluar dari kampus.
Bagaimana Poinnya Terkumpul
Visa ini diberikan pada 70+ poin di tabel poin resmi; saya melewati 80+ poin dengan cukup mudah. Begini rinciannya:
- Gelar doktor — blok poin terbesar
- Lebih dari tiga publikasi first-author — capaian riset dihitung terpisah dari gelarnya sendiri
- Usia — tabel poinnya menghargai usia muda, dan menyelesaikan S3 di usia 20-an membuat kelompok usia saya bekerja menguntungkan saya
- Lulusan universitas Jepang — bonus di atas poin gelar
- Lulusan universitas Jepang yang ditunjuk pemerintah — pemerintah Jepang punya daftar universitas terpilih yang memberi bonus tambahan, dan University of Tsukuba ada di dalamnya
Tidak ada satu pun dari daftar itu yang menuntut negosiasi atau pencapaian baru — semuanya fakta yang sudah saya bawa di hari kelulusan. Karena itulah saya menyebutnya mudah: untuk doktor baru lulusan universitas Jepang, poin-poinnya pada dasarnya sudah terkumpul duluan.
Dan inilah detail yang saya ingin diperhatikan setiap peneliti yang akan lulus: semua ini berhasil meskipun ekspektasi gaji saya biasa-biasa saja. Visa HSP mensyaratkan ekspektasi gaji tahunan minimum ¥3.000.000 — ambang yang bisa dilewati tawaran fresh graduate normal di Jepang. Kamu tidak butuh pekerjaan bergaji tinggi untuk menjadi “Highly Skilled Professional.” Kamu butuh poin, dan gelar S3 dengan publikasi adalah gunung poin.
Paper-paper yang dulu tidak bisa membuat saya direkrut? Merekalah yang memberi saya kategori visa terbaik yang bisa saya pegang.
Linimasa
- Akhir Desember 2024 — mengajukan aplikasi (kurang-lebih bertepatan dengan sidang doktoral pertama saya)
- Pertengahan Februari 2025 — hagaki hasil datang, tepat setelah sidang publik terakhir saya
- April 2025 — mulai kerja, status baru sudah di tangan
Sekitar 1,5 bulan dari aplikasi sampai hasil, cukup lega untuk mengejar tanggal masuk kerja di bulan April.
Jujur Saja: Prosesnya Mudah
Andai bisa, saya ingin menyajikan drama di bagian ini. Tapi justru kebenarannya itulah informasi yang berguna: aplikasinya sama sekali tidak sulit. Persiapan dokumennya juga tidak sulit. Kumpulkan bukti untuk poin-poinmu — ijazah, publikasi, kontrak kerja yang mencantumkan ekspektasi gaji — ajukan, lalu tunggu.
Itu saja ceritanya. Setelah pencarian kerja yang penuh tembok, visa justru satu-satunya gerbang yang terbuka begitu saja. Yang paling saya ingat adalah rasa syukurnya: keluar dari S3 sambil memegang visa HSP rasanya seperti sang gelar berbisik pelan, ternyata aku ada gunanya juga.
Cek Aturan Terbaru
Satu catatan: tabel poin imigrasi, ambang gaji, dan benefit HSP berubah dari waktu ke waktu. Sebelum menyusun rencanamu berdasarkan artikel ini, verifikasi tabel poin terbaru di situs Immigration Services Agency (出入国在留管理庁). Pengalaman saya dari siklus aplikasi 2024–2025.
Seri Ini Sejauh Ini — dan Setelahnya
Bab pencarian kerja resmi ditutup: dari keputusan meninggalkan riset, lewat dokumen dan sepuluh penolakan, sampai tawaran kerja — dan kini visa yang menyertainya.
Tapi naitei dan visa hanyalah tiket masuk ke depan pintu. April 2025, hanya beberapa hari setelah wisuda, saya melangkah masuk ke hari pertama saya sebagai shakaijin — seorang doktor di tengah ruangan penuh fresh graduate. Apa sebenarnya yang dilakukan perusahaan engineering terhadap seorang doktor fisika? Apakah meninggalkan riset benar-benar jadi pemulihan yang saya harapkan, atau cuma lelah jenis baru? Itulah bab berikutnya: Bekerja di Jepang Setelah S3.