Cari Kerja di Jepang Saat Masih Kuliah S3 — Keputusan Meninggalkan Dunia Riset

Mendapatkan pekerjaan di Jepang sebagai lulusan doktoral asing bukanlah hal yang mudah. Di halaman Tentang Saya, saya pernah berjanji suatu hari akan menulis seluruh proses itu secara detail — seri tulisan ini adalah cerita tersebut. Dan cerita ini tidak dimulai dari formulir lamaran, melainkan dari sebuah keputusan.


Kenapa Industri, Bukan Postdoc

Berlawanan dengan anggapan banyak orang, postdoc itu bukan “langkah lanjutan yang umum” setelah S3 — postdoc cuma salah satu opsi. Secara garis besar, seorang doktor baru memilih antara tetap di jalur akademik — menjadi peneliti di universitas atau lembaga riset — atau masuk ke industri, biasanya sebagai peneliti R&D di sebuah perusahaan. Memilih di antara keduanya sebenarnya adalah memilih mau menjalani hidup seperti apa setelah lulus.

Bagi saya, keputusan untuk meninggalkan dunia riset sudah dibuat bahkan sebelum proses cari kerja dimulai.

Hidup sebagai mahasiswa doktoral dengan NIMS-GRA itu melelahkan dengan cara yang sangat spesifik: riset setiap hari, tanpa jeda yang sesungguhnya. Tekanan itu punya sumber yang konkret — program saya mensyaratkan tiga publikasi jurnal internasional sebelum lulus (atau dua sudah terbit dan satu submitted). Sampai pertengahan 2024, baru dua paper saya yang terbit — paper first-author dari masa S2 tidak dihitung — dan hasil untuk paper ketiga masih berjalan, dengan setup optik yang terus-menerus minta dimodifikasi dan diatur ulang. Ditambah lagi, tidak ada bayaran ekstra untuk jam kerja ekstra. Di tahun terakhir, saya hanya tidur 4 sampai 6 jam per malam. (Periode ini saya ceritakan di kisah sidang doktoral pertama.)

Jadi, industri tidak pernah menjadi mimpi indah bagi saya. Industri adalah mundur yang disengaja — dipilih dengan satu harapan: mendapatkan kembali waktu untuk diri sendiri dan pulih dari masa S3 yang gelap. Kalau kamu membaca ini sambil diam-diam bertanya-tanya apakah “boleh” meninggalkan riset setelah bergelar doktor: boleh. Kadang itu justru pilihan paling sehat yang ada di atas meja.


Kapan Saya Mulai: November 2023

Saya mulai cari kerja pada November 2023, saat tahun kedua program doktoral. Ini bukan waktu yang asal-asalan — sistem rekrutmen Jepang praktis menuntut kamu mulai setahun atau lebih sebelum kelulusan. Sesi informasi perusahaan, lamaran, wawancara, sampai naitei (tawaran kerja) semuanya terjadi jauh sebelum tanggal mulai kerja yang sebenarnya.

Kalau hanya satu tanggal yang kamu bawa pulang dari artikel ini: D2, bukan D3. Mulai di tahun terakhir berarti cari kerja sambil menulis disertasi — kombinasi yang tidak akan saya doakan terjadi pada siapa pun.


Job Fair yang Bukan untuk Saya

Job fair pertama saya adalah pada Desember 2023 — career fair untuk mahasiswa internasional, diadakan di Hamamatsuchō. Di atas kertas kedengarannya sempurna. Saya tidak mau bilang acaranya tidak berguna — untuk sebagian orang mungkin justru sangat bermanfaat — tapi acara itu bukan untuk profil saya.

Sebagian besar posisi yang ditawarkan adalah pekerjaan 特定技能 (Specified Skilled Worker) dan pekerjaan jasa seperti layanan penerjemahan, dan cukup banyak booth yang diisi oleh agen rekrutmen (Ninja, Sojitz, dan sejenisnya), bukan perusahaan yang merekrut langsung. Tidak ada yang salah dengan semua itu — tapi hampir tidak ada yang ditujukan untuk orang yang sebentar lagi menyandang gelar doktor.

Pelajarannya: sebelum menghabiskan satu hari perjalanan ke sebuah job fair, cek dulu jenis pekerjaan apa yang sebenarnya sedang direkrut oleh para peserta pameran, dan apakah kamu akan bertemu perusahaan atau perantara.


Job Fair yang Benar-Benar Membantu

Dua jenis job fair yang benar-benar membantu:

  • Career fair milik universitas sendiri — job fair University of Tsukuba menghadirkan perusahaan yang memang berekspektasi bertemu mahasiswa pascasarjana.
  • Job fair yang diadakan Mynavi dan Rikunabi — platform cari kerja terbesar di Jepang ini rutin mengadakan acara sendiri, dan acaranya layak dihadiri.

Di luar job fair, platformnya sendiri juga terbukti berguna: saya memakai Mynavi dan Rikunabi untuk mendaftar 会社説明会 (sesi informasi perusahaan), dan ternyata itu salah satu bagian paling bermanfaat dari seluruh fase awal pencarian kerja saya. Job fair dan platform online itu saling melengkapi — kadang berbicara langsung dengan orang dari perusahaannya memberi tahu kamu lebih banyak daripada website mana pun.


Strategi Saya: Semua Jalur Sekaligus

Saya tidak memilih hanya satu jalur. Saya mengambil semuanya sekaligus:

  • jalur 新卒 (fresh graduate)
  • layanan scout
  • agen
  • career center universitas

Tidak ada gengsi soal jalur. Tujuan saya sederhana: dapat kerja — berapa pun gajinya. Pola pikir ini kadang dikritik orang, tapi di artikel selanjutnya saya akan jelaskan kenapa, bagi saya, itu keputusan yang tepat.


Selanjutnya

Pertempuran pertama yang sesungguhnya bukanlah wawancara. Melainkan selembar kertas: rirekisho (CV). Di artikel berikutnya, saya akan berbagi cara saya menyiapkan dokumen lamaran berbahasa Jepang — dan kenapa ChatGPT saja tidak cukup.