Cari Kerja di Jepang sebagai Doktor Asing — Sepuluh Penolakan Sebelum Satu Tawaran

Kalau kamu menemukan artikel ini jam 2 pagi lewat pencarian semacam “susah cari kerja di Jepang padahal S3” — artikel ini untukmu. Karena dulu, itu saya.

Saya melamar ke sekitar sepuluh perusahaan. Semuanya menolak saya.


Membidik Bidang Sendiri

Saya memulai dengan logis. Doktoral saya di bidang nanofotonika dan pengukuran fototermal, jadi saya membidik perusahaan pembuat sistem pengukuran optik — spektroskopi, instrumen pengukuran termal. Tempat-tempat di mana keahlian saya seharusnya paling nyambung.

Saya melamar ke sebuah produsen alat ukur besar yang produknya benar-benar saya hormati. Ditolak. Dan begitu seterusnya, lagi dan lagi, justru di perusahaan-perusahaan yang paling dekat dengan bidang saya sendiri.

Inilah bagian yang tidak pernah diperingatkan siapa pun: penolakan yang paling sakit bukan datang dari lamaran coba-coba. Melainkan dari perusahaan tempat kamu seharusnya diterima.


Kenapa Gelar S3 Justru Bisa Merugikan

Ini kebenaran tidak nyaman yang saya pelajari: gelar S3 membantumu mendapatkan pekerjaan riset — dan bisa aktif merugikanmu di tempat lain.

Gelar doktor menandakan keahlian yang dalam dan spesifik. Ketika kamu melamar di luar spesialisasi itu, perusahaan melihat seseorang yang overqualified ke arah yang salah — mahal untuk direkrut, sulit ditempatkan, dan berisiko kabur kembali ke dunia riset. Sementara itu, riset saya sendiri — teknik pengukuran baru menggunakan quantitative phase microscopy — belum menjadi sesuatu yang dibutuhkan industri, setidaknya belum saat itu.

Dan jujur saja, ini perasaan yang menyedihkan: menyandang gelar doktor sambil berlari menjauh dari pekerjaan riset. Gelar yang saya bayar dengan tidur dan kesehatan, di permainan yang satu ini, justru bekerja melawan saya.


Kalimat yang Menohok

Seseorang di career center universitas mengatakan sesuatu yang masih saya pikirkan sampai sekarang:

Lembaga riset dan industri punya tujuan yang berbeda. Supaya industri mau merekrutmu, risetmu harus cocok dengan apa yang industri butuhkan.

Kalimat itu menohok karena benar, dan karena saya mendengarnya sudah terlambat untuk berbuat apa-apa. Lembaga riset menghargai penemuan baru. Industri menghargai solusi yang dibutuhkan. Keduanya bukan hal yang sama, dan mahasiswa doktoral yang berencana meninggalkan akademia sebaiknya tahu sejak awal sedang berlatih untuk permainan yang mana.


Yang Akan Saya Katakan ke Diri Saya di Tahun Pertama

Kalau bisa bicara dengan diri saya sendiri di awal S3, saya akan bilang begini: kalau ada kemungkinan kamu akan meninggalkan akademia, arahkan risetmu ke apa yang sedang dibutuhkan orang — jangan hanya ke apa yang paling baru. Kamu tetap bisa menghasilkan riset yang unggul dari masalah yang dipedulikan industri. Pasar kerja akan memperlakukan dua jalur itu dengan sangat berbeda.

Bukan berarti riset saya sia-sia — riset itu membentuk siapa saya sekarang, dan (bocoran untuk artikel selanjutnya) publikasi-publikasinya ternyata berarti dengan cara yang tidak terduga. Tapi ketidakcocokan itu harganya mahal sekali di proses cari kerja.


Bertahan di Ruang Wawancara

Orang sering bertanya tentang wawancara terburuk dan terbaik saya. Jawaban jujurnya: dua-duanya saya tidak ingat. Seluruh periode itu terasa seperti kabut berisi rutinitas yang sama.

Rutinitas itu biasanya dibuka dengan cara yang sama: perkenalan diri di awal wawancara, tempat kamu menceritakan apa yang kamu kerjakan selama masa studi. Isinya tidak harus riset semua — kamu juga boleh memasukkan hobi atau pengalaman organisasi, dan untuk pelamar bergelar doktor, itu justru sering jadi sinyal yang disambut baik bahwa kamu lebih dari sekadar disertasimu. (Dan sebagai catatan: tidak ada satu pun yang pernah bertanya kenapa saya meninggalkan akademia.)

Yang saya ingat adalah taktik bertahan saya, dan taktik itu sederhana sampai hampir memalukan: jawab setiap pertanyaan dengan positif. Apa pun yang mereka tanyakan, saya bingkai sepositif mungkin lalu terus maju.

Sepuluh penolakan kemudian, disiplin itu bukan lagi soal strategi — melainkan soal melindungi semangat saya sendiri.


Selanjutnya

Penolakan kesepuluh bukanlah akhir cerita. Di artikel berikutnya: bagaimana seorang agen mengubah segalanya, dan tawaran kerja yang datang tepat satu tahun sebelum kelulusan saya.