Dari “Tidak Boleh Menyewa” ke Pindahan Dibayar Perusahaan: Menyewa Rumah di Jepang, 2020–2025

Dalam lima tahun di Jepang saya sudah menandatangani empat jenis urusan tempat tinggal, dan tidak satu pun dari kepindahan itu ditentukan oleh selera. Bahkan tidak benar-benar ditentukan oleh budget.

Semuanya ditentukan oleh dokumen — status izin tinggal saya mengizinkan apa, nama siapa yang boleh masuk kontrak, dan siapa yang membayar.

Itu bagian yang tidak ada yang memberitahu sebelum kamu datang. Kamu riset daerah, harga sewa, waktu tempuh, seolah-olah pertanyaannya adalah saya mau tinggal di mana. Untuk beberapa tahun pertama, pertanyaan sebenarnya jauh lebih sempit dan jauh kurang romantis: saat ini saya boleh menyewa apa?


Kontrak Pertama: Ketika Menyewa Bukan Pilihan (2020–2022)

Rumah pertama saya di Jepang bukan milik saya, dan memang tidak mungkin.

Saya datang Januari 2020 dengan visa researcher bermasa tinggal di bawah tiga bulan, yang berarti tidak dapat residence card — dan tanpa residence card kamu tidak bisa memegang kontrak sewa, nomor telepon, atau rekening bank. Solusinya adalah senior saya dari ITB, yang apartemennya saya tumpangi selama dua tahun penuh.

Cerita itu sudah pernah saya tulis, jadi tidak saya ulang di sini. Yang penting untuk artikel ini adalah bentuk yang ditinggalkannya: selama dua tahun pertama di Jepang, saya punya tempat tinggal tapi tidak punya kontrak sewa. Kontraknya ada. Nama saya tidak ada di dalamnya.

Situasi itu berakhir karena alasan yang biasa saja, bukan dramatis. Kontrak sewa dua tahun itu habis bersamaan dengan selesainya S2 saya, Februari 2022. Dua hal itu selesai di bulan yang sama, dan saya harus memutuskan mau tinggal di mana sebagai penyewa sungguhan untuk pertama kalinya.


Kontrak Kedua: Kontrak Pertama Atas Nama Sendiri (2022–2025)

Apartemen yang saya masuki Februari 2022 sampai sekarang masih yang saya sebut kalau ada yang bertanya apakah Jepang itu mahal.

Bentuknya 3K di daerah Umezono, Tsukuba, seharga ¥37.000 per bulan.

Tiga ruangan plus dapur. Tidak baru — jujurnya memang tua — tapi kokoh, tenang, dan sangat nyaman untuk ditinggali. Di Tokyo angka itu tidak dapat satu kamar. Di Tsukuba angka itu dapat satu apartemen yang cukup luas sampai saya tidak pernah sekali pun merasa kekurangan ruang selama tiga tahun program doktor.

Di sini saya mau hati-hati, karena “Jepang mahal” dan “Jepang murah” dua-duanya malas. Yang benar adalah: harga sewa di Jepang ditentukan oleh alamat dengan tingkat kekejaman yang bikin orang kaget. Uang yang sama membeli hidup yang sangat berbeda tergantung kamu di kota mana, dan kota riset satu jam dari Tokyo adalah salah satu penawaran terbaik di negara ini. Kondisi biaya kuliah saya waktu itu membuat uang tidak berlimpah; sewa yang murah adalah sebagian besar alasan kenapa tetap tidak terasa sempit.

Saya tidak memilih 3K karena mahasiswa sendirian butuh tiga ruangan. Saya memilihnya karena saya ingin tempat yang cukup besar untuk saya dan keluarga saya nanti — dan pada waktunya, itu memang yang terjadi. Saya dan istri saya tinggal di sana bersama sampai program doktor selesai.

Jadi kontrak kedua adalah kebalikan dari yang pertama: nama saya, kontrak saya, pilihan saya, dan pilihan yang sengaja berorientasi ke depan. Apartemen itu menampung seluruh masa doktoral — rutinitas saat pandemi, publikasi, sidang-sidang, cari kerja — dan saya tinggalkan Maret 2025 ketika S3 berakhir.


Kontrak Ketiga: Apartemen Berperabot dan Delapan Kardus Milik Sendiri (2025)

Lalu datang bentuk tempat tinggal paling aneh dari lima tahun itu, dan yang belum pernah saya dengar sebelum saya membutuhkannya.

Mulai bekerja berarti harus keluar dari Tsukuba sebelum saya tahu akan berakhir di mana. Masa pelatihan (研修) datang lebih dulu, dan akan ditempatkan di mana setelah itu justru yang belum jelas. Itu jeda yang benar-benar tidak nyaman: kamu harus tinggal di suatu tempat, tapi menandatangani kontrak dua tahun ketika penempatan setelah 研修 belum ditentukan jelas bodoh.

Jawabannya adalah monthly mansion (マンスリーマンション) berperabot di Kota Kawasaki, dekat stasiun Yomiuri Land, dari April sampai Agustus 2025.

Monthly mansion layak diketahui. Ini sewa jangka pendek yang datang sudah berperabot — tidak ada ritual deposit-dan-uang-kunci, tidak perlu beli perabot, tidak ada komitmen dua tahun. Per bulan lebih mahal daripada kontrak normal, dan justru itu yang kamu bayar: hak untuk pergi. Saya beruntung tempat yang saya dapat perabotnya benar-benar lengkap. Banyak sewa jangka pendek tidak seperti itu, jadi ini hal yang perlu dicek, bukan diasumsikan.

Kalimat standar tentang monthly mansion adalah kamu datang cuma bawa koper. Saya tidak. Saya datang dengan koper plus sekitar delapan kardus besar — kardus ukuran 160, yaitu golongan kurir di mana panjang plus lebar plus tinggi totalnya 160 cm atau kurang.

Meninggalkan Tsukuba setelah lima tahun berarti benar-benar harus menyortir. Kami menjual sebagian besar perabot besar dan membuang barang yang tidak sepadan dengan ruang yang dimakannya. Bahkan setelah semua itu, yang tersisa masih jauh dari muatan satu koper:

  • buku-buku
  • piring dan alat makan
  • selimut, futon, selimut listrik
  • elektronik — kompor IH, hair dryer, microwave, oven, air purifier

Itu bagian dari pindahan yang benar-benar mengejutkan saya. Perabot adalah masalah yang kelihatan, dan justru itu yang gampang diselesaikan, karena selalu ada yang mau beli. Yang sebenarnya terus mengikuti kamu adalah infrastruktur sehari-hari yang tidak keren itu — dan tidak ada satu pun yang cukup besar untuk terasa layak dibuang, yang persis itulah cara kamu berakhir dengan delapan kardus.

Satu barang besar memang tidak bisa ikut: mobil tidak diizinkan di alamat itu, jadi Suzuki Lapin tetap terparkir di Tsukuba selama empat bulan penuh — dan begitu Tokyo dipastikan sebagai tujuan, mobilnya saya jual.

Jadi: empat bulan hidup di antara perabot orang lain, dengan hidup saya sendiri tertumpuk dalam delapan kardus di sebelahnya.


Kontrak Keempat: Pindahan yang Dibayar Perusahaan (Agustus 2025)

Akhir Agustus 2025 saya masuk ke rumah pertama saya di Tokyo, dan di sinilah saya akhirnya paham apa yang berubah ketika berhenti jadi mahasiswa.

Semua perabot harus diganti. Perabot Tsukuba sudah dijual; perabot Kawasaki memang bukan milik saya. Delapan kardus itu menutupi kebutuhan kecil, tapi semua barang besar sudah tidak ada, jadi pindah ke sini berarti mengisi apartemen dari nol — satu-satunya kepindahan dalam lima tahun yang proyek utamanya adalah belanja.

Barang bekas sebenarnya jawaban yang sama bagusnya. Begitu caranya saya membeli mobil saya, dan pasar barang bekas di Jepang memang bagus. Tapi kali ini saya memilih beli baru, dan alasannya adalah kepindahan itu sendiri: ini alamat pertama yang saya perkirakan akan saya tempati lama. Barang yang akan dipakai bertahun-tahun punya perhitungan harga yang berbeda dari barang yang cuma dipakai empat bulan. Membayar lebih untuk barang baru dalam konteks itu bukan pemborosan — itu cuma hitungan dengan jangka waktu yang lebih panjang.

Tapi kontraknya sendiri yang paling mudah dari keempatnya, karena perusahaan saya menanggung sebagian besar biaya masuk: deposit (敷金), asuransi, dan biaya perantara (仲介手数料).

Kalau kamu belum pernah menyewa di Jepang, kalimat itu terdengar biasa padahal tidak. Biaya masuk sewa di Jepang menumpuk di depan sampai tingkat yang sering memukul orang asing cukup keras — deposit, biaya agen, asuransi, urusan penjamin, sering ditambah uang kunci, semuanya harus dibayar sebelum kamu tidur semalam pun di tempat itu. Total awalnya lumrah mencapai beberapa kali sewa bulanan.

Kepindahan-kepindahan saya sebagai mahasiswa dibayar sendiri sepenuhnya. Yang ini tidak. Negara yang sama, sistem sewa yang sama, dokumen yang sama — dan tagihannya mendarat di meja orang lain. Kontras itu, lebih dari soal komuter atau gaji, yang membuat mulai bekerja terasa seperti pindah kategori, bukan sekadar pindah pekerjaan.


Apa yang Sebenarnya Menentukan Kamu Tinggal di Mana di Jepang

Jajarkan keempat kontrak itu dan polanya jelas sampai agak bikin tidak nyaman:

PeriodeYang bisa saya tanda tanganiKenapa
2020–2022Tidak adaBelum ada residence card
2022–2025Kontrak normal, atas nama sendiriMahasiswa dengan residence card
2025 (Apr–Agu)Sewa jangka pendek berperabotPenempatan setelah 研修 belum ditentukan
2025–Kontrak normal, dibantu perusahaanKaryawan bergaji

Tidak ada satu baris pun yang soal selera. Semua barisnya soal status — legal, lalu logistik, lalu finansial. Selera kamu soal apartemen baru jadi relevan jauh lebih belakangan daripada yang kamu duga.

Menurut saya ini justru menenangkan, bukan menyedihkan, karena artinya masalah tempat tinggal bukan soal keberuntungan atau pintar merayu. Ini soal urutan. Setiap status membuka jenis kontrak berikutnya, dan urutannya bisa diprediksi.


Kalau Kamu Sedang Menyiapkan Apartemen Pertama di Jepang

Lima hal yang akan saya bilang ke diri saya sendiri di 2020:

  1. Cek masa tinggal di visamu, bukan cuma status disetujuinya. Di bawah tiga bulan berarti tidak ada residence card, yang berarti tidak bisa menyewa sama sekali. Rencanakan mau tidur di mana selama jeda itu sebelum kamu terbang.
  2. Tentukan kotanya dulu sebelum menilai harganya. 3K seharga ¥37.000 dan satu kamar seharga ¥80.000 ada di negara yang sama, berjarak satu jam. Kalau pekerjaan atau studimu memungkinkan tinggal di luar kota besar, satu keputusan itu lebih besar dampaknya daripada semua trik hemat.
  3. Kalau alamat berikutnya belum pasti, cari tahu persis apa saja yang disediakan tempat jangka pendek itu. Monthly mansion berperabot membuat saya tidak perlu mengisi rumah yang akan saya tinggalkan empat bulan kemudian — tapi saya beruntung tempat saya lengkap, dan banyak yang tidak. Seberapa banyak yang kamu jual, simpan, kirim, atau beli ulang itu keputusan masing-masing, tidak ada jawaban tunggal yang benar; yang penting kamu memutuskannya sambil tahu apa yang sebenarnya disediakan tempat sementara itu.
  4. Baru atau bekas itu pertanyaan soal waktu, bukan soal gengsi. Pasar barang bekas di Jepang cukup bagus sampai tidak ada alasan untuk mengesampingkannya — mobil saya saya beli begitu. Tapi kalau alamatnya kamu perkirakan akan ditempati lama, barang baru bisa jadi lebih untung per tahun pemakaian. Sesuaikan pembelian dengan seberapa lama kamu akan memakainya.
  5. Tanyakan apa yang ditanggung perusahaan, hitam di atas putih, sebelum tanda tangan. Deposit, biaya agen, asuransi, dan biaya pindahan semuanya bisa jadi tanggungan perusahaan, dan totalnya cukup besar untuk berpengaruh. Tidak akan ada yang memberitahu duluan.

Lima tahun berjalan, apartemen yang masih sering saya ceritakan adalah yang ¥37.000 itu. Bukan karena paling bagus — justru paling tua dari keempatnya — tapi karena itu yang pertama benar-benar milik saya, dan ternyata cukup besar untuk hidup yang datang setelahnya.


Cek Aturan Terbaru

Tingkat harga sewa, kebiasaan biaya masuk, dan aturan residence card semuanya bisa berubah, dan sangat berbeda antar kota bahkan antar bangunan. Pengalaman saya mencakup 2020 sampai 2025, di Ibaraki, Kanagawa, dan Tokyo. Verifikasi syarat status izin tinggal ke Immigration Services Agency (出入国在留管理庁), dan anggap semua angka di sini sebagai catatan satu orang, bukan harga pasar saat ini.