Gurita ¥686: Sabtu Pagi di Pasar Ikan Tsuchiura
Ada satu jenis kepercayaan diri yang cuma muncul kalau kamu punya alat yang sebenarnya tidak pantas kamu punya. Punya saya waktu itu: sebuah takoyaki pan listrik — delapan belas cetakan bulat, dengan wajah gurita kecil timbul di gagangnya — dibeli untuk apartemen mahasiswa di Tsukuba, oleh orang yang belum pernah sekalipun bikin takoyaki.
Ini cerita tentang hari Sabtu ketika alat itu akhirnya saya pakai.
Pagi-Pagi Buta — Pasarnya Buka Pagi Sekali
土浦魚市場 (Pasar Ikan Tsuchiura) tidak mengikuti jam hidup mahasiswa. Saya sudah berdiri di dalamnya sebelum jam 7 pagi, Sabtu, 19 November 2022 — artinya berangkat dari Tsukuba waktu hari masih gelap.
Bangunannya sudah menjelaskan dirinya sendiri sebelum kita masuk. Papan kuning panjang membentang di depan: 食事・魚市場・海鮮丼 — rumah makan, pasar ikan, dan donburi seafood. Di atasnya ada spanduk: 海の恵みを食卓へ — berkah laut, sampai ke meja makan Anda. Dan di pojok, satu detail yang menjelaskan kenapa saya memilih hari Sabtu: 毎週土曜日 まぐろ食べ放題 1500円. Tuna sepuasnya, setiap Sabtu, ¥1.500.
Di luar, sebuah forklift merah masih memindahkan palet styrofoam. Orang-orang berjaket kerja menumpuk kardus. Ini pasar grosir yang kebetulan mengizinkan pembeli eceran masuk, bukan tempat wisata — dan di jam segitu, bedanya kelihatan jelas.
Di dalam, cumi-cumi tertata di nampan styrofoam, utuh, disusun rapat kepala-ke-ekor, masih mengkilap. Di atasnya ada sobekan kertas dengan harga tulisan tangan: イカ 1ヶ 350 — cumi, satu ekor, ¥350.
Cuminya tidak saya beli.
Beberapa Menit Kemudian — 266 Gram, Asal Senegal
Yang saya beli ada di bawah plastik wrap, di atas nampan putih: 真だこ (madako), gurita biasa, dipotong jadi lengkungan tebal dengan cincin-cincin penyedotnya masih utuh sempurna.
Label harganya layak dibaca sampai habis, karena di situlah letak lelucon sepanjang hari itu:
- 刺身用 — untuk sashimi. Aman dimakan mentah.
- 266 g, harga ¥258 per 100 g
- ¥636 sebelum pajak → ¥686 total
- Baik dikonsumsi sebelum 22.11.20 — besoknya
- Diproses oleh perusahaan di Tsuchiura, Ibaraki, sekitar lima belas menit dari tempat saya berdiri
- セネガル産 — produk Senegal
Saya bangun sebelum matahari terbit untuk membeli hasil laut lokal di pasar ikan lokal, dan guritanya terbang dari Afrika Barat.
Saya sering memikirkan label itu sesudahnya. Itu hal paling jujur yang pernah disampaikan siapa pun di Jepang soal asal-usul makanan. Pasarnya lokal. Rantai pasoknya tidak — dan tidak ada yang pura-pura sebaliknya: negara asalnya dicetak di stiker, ukuran hurufnya sama besar dengan harganya.
¥686. Itu total biaya bahan baku artikel ini. Sebagai pembanding, satu porsi takoyaki di kedai harganya ¥500–700, dan isinya enam sampai delapan butir.
Siang — Bagian yang Tidak Pernah Difoto Orang
Beberapa jam kemudian, guritanya sudah di atas telenan.
Karena dijual sebagai sashimi-grade, dia sudah direbus lebih dulu — kulit ungu kecokelatan pekat membungkus daging putih padat. Bagian lengannya gampang dipotong jadi koin-koin.
Tak lama, semuanya sudah masuk wadah: tumpukan potongan gurita pucat dengan bintik ungu di sisa kulitnya. Dua ratus enam puluh enam gram ternyata kelihatan jauh lebih banyak setelah dipotong dadu.
Saya memotret pan-nya, masih dingin, tergeletak di meja di atas setumpuk berkas. Delapan belas cetakan. Saya ingat waktu itu berpikir: delapan belas ini akan pas sekali, atau salah hitung besar-besaran.
Sore — Delapan Belas Lubang, Dua Putaran
Delapan butir pertama keluar, dan warnanya pucat. Keemasan di beberapa titik. Siapa pun yang pernah bikin takoyaki tahu tahap ini: sudah matang, sudah bulat, tapi sama sekali tidak mirip foto-foto di internet.
Tak lama kemudian, sudah ada empat belas butir di piring. Lebih cokelat. Lebih baik. Tekniknya membaik secara terukur hanya dalam satu batch, dan itu hal paling melegakan yang bisa terjadi pada siapa pun yang baru pertama kali memasak sesuatu.
Lalu datang bagian yang membuatnya jadi takoyaki dan bukan sekadar adonan goreng:
- saos takoyaki, dioles sampai menggenang cokelat di sela-selanya
- mayonnaise Jepang, garis-garis putih tipis
- 青のり (aonori) — bubuk rumput laut hijau, ditaburkan
- 鰹節 (katsuobushi) — serutan ikan
Katsuobushi-nya justru inti dari semuanya. Serutannya setipis itu sampai panas yang naik dari takoyaki bikin dia terangkat, melengkung, dan bergerak sendiri — dan di foto yang saya ambil, serutan itu tertangkap sedang bergerak, berdiri dari piring seperti sesuatu yang hidup. Semua kedai takoyaki di Jepang menjual momen itu. Ternyata momen itu bisa dibuat sendiri di rumah, di Ibaraki, pakai gurita asal Senegal, dengan biaya jauh di bawah ¥1.000.
Malam — Lalu Malamnya Kami Makan Soba
Ini bagian penutup yang paling saya suka, karena inilah yang sebenarnya terjadi.
Malam itu saya memotret makan malam: dua bungkus そば (soba) merek Kasumi, jaringan supermarket lokal. Merek sendiri. 添加物不使用 — tanpa bahan tambahan. Sudah direbus, disimpan dingin, dikemas tiga hari sebelumnya tanggal 16 November.
Setelah berangkat sebelum subuh, belanja di pasar, dan satu sore penuh memotong gurita, mengaduk adonan, dan mengisi delapan belas cetakan sampai dua putaran — makan malamnya dua bungkus soba supermarket.
Apa yang Sebenarnya Dibeli ¥686 Itu
Saya sudah cukup banyak menulis di situs ini soal hitung-hitungan finansial jadi mahasiswa di Jepang — beasiswanya, potongannya, keringanannya, berapa yang benar-benar tersisa di akhir bulan. Hari Sabtu ini adalah sisi lain dari buku besar yang sama, dan justru sisi ini yang lebih mudah saya rekomendasikan.
¥686 untuk gurita — ditambah harga telur, dan dua bungkus soba yang tidak pernah saya catat — menghasilkan satu sore penuh, makanan untuk berdua, dan satu foto serutan katsuobushi yang sampai sekarang masih saya anggap foto makanan terbaik yang pernah saya ambil.
Setahun kemudian saya makan takoyaki di Osaka, langsung di sumbernya, dalam perjalanan ke Wakayama. Rasanya lebih enak dari buatan saya. Ya jelas lebih enak dari buatan saya.
Tapi untuk yang itu saya tidak perlu bangun jam lima pagi, dan saya juga tidak pernah tahu guritanya datang dari mana.