Pandemi Tidak Mengubah Rutinitas Saya — Karena Rutinitasnya Memang Begitu

Kalau kamu membaca artikel tentang awal kuliah S2 saya di tengah pandemi, kamu sudah tahu sisi akademiknya. Artikel ini sisi yang lain: bagaimana hidup sehari-hari saya waktu itu — dan kenapa jawabannya jauh lebih membosankan dari yang orang kira.


Rutinitas yang Kebal Pandemi

Waktu status darurat diumumkan di musim semi 2020, hidup saya nyaris tidak berubah. Alasannya sederhana: hidup saya memang sudah begitu.

Bangun → berangkat ke NIMS untuk riset → pulang. Makan siang di kafeteria NIMS, makan malam beli bento di supermarket dalam perjalanan pulang. Itu saja. Peneliti di institut riset ternyata salah satu profesi paling “tahan pandemi” — pekerjaannya tetap ada, tempatnya tetap sama, ritmenya tetap jalan.

Kalau soal belanja pun tidak banyak berubah. Saya jarang belanja bahan mentah; sebagian besar tinggal beli bento. Jadi ke supermarket ya seperti biasa saja, bahkan di masa darurat.

Satu hal kecil yang sempat mengganggu di awal: saya tidak nyaman memakai masker setiap hari. Butuh waktu sampai akhirnya terbiasa.


Ekonomi Bento: Ilmu Stiker Diskon

Ada satu bagian dari rutinitas itu yang sebenarnya punya strategi tersendiri: memilih supermarket berdasarkan jam pulang.

Setiap supermarket mulai menempelkan stiker diskon ke bento pada waktu yang berbeda-beda. Jadi tergantung jam berapa saya meninggalkan NIMS, supermarket tujuannya bisa berbeda. Pulang lebih malam, makan malamnya lebih murah.

Pilihan saya waktu itu ada dua: Kasumi (Takezono) dan Seiyu (Dayz Town) — Seiyu jadi langganan sampai akhirnya tutup. Lalu muncul pesaing baru yang cukup mengguncang: Lopia di Tonarie (dekat Tsukuba Center), yang menjual barang-barang enak, bagus, dan murah sekaligus.

Diskonnya sendiri bertingkat: mulai dari potongan ¥50, lalu 20%, sampai 50%. Buat mahasiswa, selisih itu nyata sekali.


Yang Sebenarnya Hilang

Jadi apa yang berubah karena pandemi? Bukan hari-hari saya — tapi hari-hari yang saya bayangkan.

Sebelum berangkat ke Jepang, saya membayangkan naik sepeda ke kampus, masuk kelas bersama mahasiswa lain, mengalami kehidupan kampus yang sesungguhnya. Yang terjadi: semuanya online. Kehidupan kampus yang saya bayangkan itu tidak pernah benar-benar terjadi di tahun pertama.

Ironisnya, karena hidup saya sudah terlanjur berpusat di lab, kehilangan itu tidak terasa dramatis. Cuma… tidak pernah ada.


Kalau Kamu Akan Kuliah Riset di Jepang

Cerita pandemi yang biasa kamu dengar — hidup jungkir balik, semua berhenti — bukan cerita saya. Yang ingin saya tinggalkan justru dua hal kecil:

  • Kehidupan mahasiswa riset itu sangat berpusat pada rutinitas. Itu kekuatannya (tetap jalan saat dunia berhenti) sekaligus kelemahannya (mudah kehilangan sisi lain dari hidup tanpa sadar).
  • Trik stiker diskon itu nyata. Kalau kamu mahasiswa dengan anggaran ketat di Jepang, kenali jam-jam supermarket di sekitarmu. Anggaran makanmu akan berterima kasih.