Awal Kuliah S2 di Jepang — di Tengah Pandemi COVID-19

April 2020. Saya resmi menjadi mahasiswa S2 di University of Tsukuba.

Tidak ada upacara wisuda. Tidak ada foto bareng teman-teman angkatan baru. Tidak ada kampus yang ramai. Yang ada hanya laptop, koneksi internet, dan kabar bahwa seluruh perkuliahan akan dilakukan secara online — karena COVID-19 baru saja ditetapkan sebagai pandemi global.

Awal kuliah yang cukup unik, kalau boleh dibilang begitu.


Entrance Ceremony yang Tidak Pernah Ada

Salah satu hal yang paling saya nantikan sebelum berangkat ke Jepang adalah entrance ceremony — upacara resmi penerimaan mahasiswa baru yang biasanya jadi momen bersejarah di universitas Jepang.

Tapi karena pandemi baru meledak tepat di waktu itu, upacara dibatalkan sepenuhnya. Semua kegiatan kampus langsung berpindah ke format online dalam hitungan hari.

Jujurnya, detail masa itu agak kabur karena saya baru menuliskannya di tahun 2025. Tapi satu hal yang tidak akan saya lupa: betapa cepatnya semua berubah, dan betapa anehnya memulai babak baru hidup di negeri orang — tanpa bisa benar-benar merasakan kampusnya.


Strategi Kuliah: Selesaikan Semua SKS di Tahun Pertama

Hal pertama yang harus dipikirkan setelah resmi menjadi mahasiswa adalah pengambilan mata kuliah.

Di program Master in Applied Physics, ada syarat menyelesaikan 30 SKS dalam masa studi dua tahun. Sejak awal, saya sudah punya satu strategi yang jelas:

Selesaikan semua SKS di tahun pertama — supaya tahun kedua bisa fokus sepenuhnya pada riset.

Keputusan ini ternyata salah satu yang paling berdampak sepanjang studi S2 saya. Tapi lebih lanjut soal itu nanti.


Sistem Perkuliahan: Tiga Jenis Mata Kuliah

Waktu pertama kali melihat katalog mata kuliah, saya cukup bingung. Ada tiga jenis mata kuliah yang harus dipahami:

  • Mata kuliah wajib universitas — berlaku untuk semua mahasiswa
  • Mata kuliah wajib jurusan — spesifik untuk program Applied Physics
  • Mata kuliah pilihan — dengan berbagai persyaratan tambahan yang perlu dibaca baik-baik

Butuh waktu untuk benar-benar memahami sistem ini, apalagi sambil menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Setelah paham alurnya, barulah saya bisa menyusun jadwal dengan lebih tenang.


Kuliah Online: Real-time vs On-demand

Karena pandemi, hampir semua mata kuliah diadakan secara online — dan menariknya, ada dua format yang berbeda:

  • Real-time — kuliah berlangsung langsung pada jam tertentu, mirip Zoom meeting
  • On-demand — dosen merekam kuliah lebih dulu, mahasiswa menonton kapan saja

Kebetulan, sebagian besar mata kuliah yang saya ambil adalah format on-demand.

Ini ternyata sangat menguntungkan buat saya. Rutinitas harian saya jadi seperti ini:

WaktuKegiatan
Pagi – SoreFokus riset di laboratorium NIMS
MalamMenonton rekaman kuliah + mengerjakan tugas

Fleksibilitas ini jauh lebih baik dibanding kuliah tatap muka biasa — saya tidak harus memilih antara riset dan kuliah, keduanya bisa berjalan bersamaan.


Strategi Pemilihan Mata Kuliah: Pilih Ujian, Bukan Laporan

Saya menyadari sejak awal bahwa kemampuan menulis laporan panjang bukan kekuatan saya. Karena itu, saya sengaja memilih mata kuliah dengan sistem penilaian ujian tulis dibanding laporan bebas.

Hasilnya cukup konsisten:

  • Mata kuliah dengan ujian tulis → mayoritas dapat nilai A
  • Mata kuliah dengan laporan panjang → nilai cenderung lebih rendah

Tapi itu bukan masalah besar. Sejak awal S2, saya sudah sadar bahwa IPK bukan segalanya — yang jauh lebih penting adalah kualitas riset yang dihasilkan. Nilai bagus itu bonus, bukan tujuan utama.

Kalau kamu tipe yang sama — lebih nyaman dengan ujian dibanding menulis laporan — strategi ini bisa kamu pertimbangkan juga.


Tahun Kedua: Bebas Fokus ke Riset

Dengan semua SKS selesai di tahun pertama, masuk tahun kedua saya benar-benar bisa fokus 100% pada riset.

Dan ini sangat membantu, karena:

  • Eksperimen di lab sering membutuhkan waktu panjang dan tidak selalu berjalan mulus
  • Pengolahan dan analisis data juga cukup menyita waktu
  • Menyeimbangkan riset dan kuliah secara bersamaan — termasuk tugas-tugasnya — bisa sangat melelahkan

Kalau kamu akan kuliah S2 di Jepang, menyelesaikan mata kuliah lebih awal adalah strategi yang sangat saya rekomendasikan.


Penutup: Kuliah Saat Pandemi Mengajarkan Banyak Hal

Tahun pertama kuliah saya mungkin berbeda dari kebanyakan orang — tidak ada entrance ceremony, semua kelas online, dan kehidupan kampus terasa sepi. Tapi justru dari situasi yang tidak ideal itu, saya belajar beberapa hal penting:

  • Fleksibilitas itu aset — bisa adaptasi dengan format apapun adalah skill tersendiri
  • Strategi di awal menentukan perjalanan — keputusan ambil semua SKS di tahun pertama terbukti sangat tepat
  • Fokus pada yang penting — dalam konteks S2, itu adalah riset, bukan IPK sempurna

Kalau kamu pernah kuliah saat pandemi, atau sedang merencanakan S2 di Jepang, semoga cerita ini bisa jadi gambaran nyata dan memberi sedikit tips praktis. Kalau ada pertanyaan, tulis di kolom komentar atau hubungi saya langsung 😊