Sepuluh Kali Ujian JLPT, Dua Sertifikat
Di artikel tentang masa transisi setelah saya lulus S1, saya menyebut lulus JLPT N3 pada Desember 2018 dan berjanji akan menceritakan perjalanan bahasa Jepang saya di postingan terpisah. Itu sudah lama sekali. Ini postingannya.
Salah satu alasan kenapa selama ini tidak saya tulis: saya terus menganggap cerita ini butuh ujung — dan ujung yang saya bayangkan adalah sertifikat yang sampai sekarang belum saya punya.
Jadi ini ceritanya, tanpa ujung itu.
Papan Skornya Dulu
Saya lebih suka menaruh angkanya di paling atas daripada menyimpannya untuk klimaks, karena justru angkanya yang membuat artikel ini layak dibaca. Kebanyakan tulisan “cara saya lulus JLPT” ditulis oleh orang yang lulus. Ini semua lembar hasil yang saya punya, lengkap per seksi:
| Ujian | Kosakata & Tata Bahasa | Membaca | Listening | Total | Hasil |
|---|---|---|---|---|---|
| N4 — Des 2016 | 59 / 120 (digabung dengan membaca) | — | 23 / 60 | 82 / 180 | Gagal |
| N3 — Jul 2017 | 24 / 60 | 22 / 60 | 36 / 60 | 82 / 180 | Gagal |
| N3 — Des 2017 | 28 / 60 | 32 / 60 | 34 / 60 | 94 / 180 | Gagal selisih satu poin |
| N3 — Des 2018 | 33 / 60 | 37 / 60 | 45 / 60 | 115 / 180 | Lulus |
| N2 — Jul 2019 | 20 / 60 | 18 / 60 | 28 / 60 | 66 / 180 | Gagal |
| N2 — Jul 2023 | 31 / 60 | 22 / 60 | 49 / 60 | 102 / 180 | Lulus |
| N1 — Jul 2024 | 24 / 60 | 19 / 60 | 31 / 60 | 74 / 180 | Gagal |
| N1 — Des 2024 | 12 / 60 | 8 / 60 | 33 / 60 | 53 / 180 | Gagal |
| N1 — Des 2025 | 20 / 60 | 13 / 60 | 40 / 60 | 73 / 180 | Gagal |
| N1 — Jul 2026 | — | — | — | belum keluar | — |
(Di N4, kosakata, tata bahasa, dan membaca digabung jadi satu seksi bernilai 120, makanya barisnya beda sendiri.)
Coba baca ke bawah kolom Membaca. Baru kali ini saya benar-benar melakukannya, saat menulis artikel ini — dan itu menata ulang semua yang saya kira saya tahu tentang bahasa Jepang saya sendiri.
Sepuluh kali ujian. Dua sertifikat. Di tengah kolom itu ada gelar doktor yang diselesaikan di Jepang, dan di bawahnya ada pekerjaan tetap sebagai engineer di Tokyo.
Mulai dari Nol, dan Mendaftar Jauh Terlalu Cepat
Saya mulai belajar bahasa Jepang dari nol waktu masih kuliah S1 di ITB — tanpa sekolah bahasa Jepang, tanpa program pertukaran, tanpa keluarga yang menghubungkan saya ke bahasa itu.
Dua atau tiga bulan setelah mulai, saya mendaftar N4, dan mengikutinya pada Desember 2016 — sekitar empat sampai lima bulan sejak saya mulai belajar.
Kalau dinilai objektif, itu terlalu cepat. Tapi saya mau adil pada diri saya yang dulu soal kenapa tetap saya lakukan: tanggal ujian yang sudah terdaftar adalah alat belajar paling ampuh yang pernah saya temukan. Niat yang samar berubah jadi tenggat, lengkap dengan biaya pendaftaran yang sudah telanjur dibayar. Saya tidak menyesal mendaftar sedini itu. Saya hanya mau jujur bahwa yang dibeli pendaftaran dini itu motivasi, bukan kesiapan.
82 dari 180. Tidak lulus. Dan yang menarik bukan gagalnya — melainkan gagal di mana.
Lembar hasilnya menilai kosakata, tata bahasa, dan membaca secara terpisah dalam bentuk huruf, dan punya saya keluar A, A, dan B. Di separuh tertulis ujian itu, menurut penilaian JLPT sendiri, kondisi saya bagus. Lalu ada seksi listening: 23 dari 60.
Semua yang saya kerjakan selama itu bisu. Buku teks, hafalan kanji, latihan tata bahasa, semuanya dibaca di atas kertas di ruangan yang sunyi. Lalu audionya diputar, dan saya baru sadar bahwa selama ini saya sedang mempelajari bahasa tulis yang kebetulan juga diucapkan orang. Kosakata saya dinilai A dan saya tetap tidak lulus, karena satu seksi ujian itu terbuat dari suara.
Obatnya Ternyata Variety Show Idol
Seorang teman memberi saran yang mengubah seluruh arah cerita ini, dan bunyinya sama sekali tidak seperti saran belajar: tonton variety show idol Jepang. Lebih spesifik lagi, Nogizaka46 dan Keyakizaka46.
Saya mau membela metode ini dengan serius, karena sekilas terdengar seperti alasan untuk nonton TV.
Audio bahan belajar bahasa dirancang supaya bisa dimengerti. Satu orang bicara bergantian, rekaman studio yang bersih, tidak ada yang menyela, kosakata disesuaikan dengan levelmu. Bahasa Jepang yang asli tidak begitu — dan variety show adalah kebalikannya yang paling ekstrem. Enam orang bicara barengan. Lelucon yang bergantung pada makna kedua sebuah kata. Kalimat yang ditinggalkan separuh jalan karena keburu dipotong orang. Teks di layar yang mengomentari ucapan barusan, bukan menyalinnya. Kecepatan yang tidak akan diperlambat siapa pun demi kamu.
Untuk waktu yang lama, saya tidak paham apa-apa. Justru itu intinya. Ujian listening bukan menguji apakah kamu tahu katanya; ujian listening menguji apakah kamu sanggup mengikuti sementara audionya jalan terus tanpa menunggumu. Variety show melatih persis kemampuan itu, karena dia memang tidak mau menunggu.
Dan metode itu juga menyembuhkan alasan sebenarnya kenapa listening saya tidak pernah dilatih: latihannya membosankan. Yang ini tidak. Saya akan tetap menontonnya ada ujian atau tidak — dan itu membuatnya jadi satu-satunya bagian rutinitas saya yang tidak pernah butuh disiplin.
Kalau hanya satu hal yang mau kamu ambil dari artikel ini, ambil yang ini: listening-mu akan membaik dengan kecepatan bahan yang kamu nikmati, bukan bahan yang kamu anggap seharusnya.
Tidak Mengulang N4, lalu Gagal N3 Dua Kali
N4 tidak saya ulang. Bukan karena merasa sudah di atas level itu — alasannya jauh lebih sederhana. Saya cukup yakin kalau ujian itu saya ambil kedua kalinya, saya pasti lulus, dan hasil yang sudah ketahuan duluan tidak sepadan dengan biaya pendaftaran maupun waktu menunggu jadwal ujian berikutnya. Kegagalan itu sudah menjalankan tugas aslinya: dia memberi tahu bahwa listening saya kosong, dan sepanjang jeda sampai ujian berikutnya, justru bagian itulah yang saya benahi. Jadi saya mendaftar N3.
N3 saya ikuti pada Juli 2017 dan gagal lagi — 82 dari 180, total yang sama persis dengan hasil N4 saya. Tapi bentuknya berbalik total:
- Listening: 36 / 60 — seksi terbaik saya, di level yang lebih sulit daripada tempat saya dulu dapat 23.
- Kosakata dan tata bahasa: 24 / 60. Membaca: 22 / 60. Dua-duanya sekarang jadi yang terlemah.
Enam bulan menonton variety show membawa listening saya dari penyebab tenggelam menjadi penopang, sambil naik satu level. Sementara itu separuh tertulisnya — separuh yang di N4 dinilai A — tertinggal, karena N3 menuntut jauh lebih banyak di sana dan enam bulan itu saya habiskan menonton televisi.
Pembalikan itu adalah hal paling berguna yang pernah JLPT berikan ke saya, sekaligus alasan kenapa layak ikut ujian sebelum merasa siap. Ujian yang gagal bukan sekadar penolakan; dia laporan diagnostik tentang di mana bahasa Jepangmu berada sebenarnya, bukan di mana perasaanmu bilang dia berada. Kebiasaan nonton variety show diam-diam sudah membangun ulang satu kemampuan, sementara dua kemampuan yang justru paling bisa diajarkan buku teks saya telantarkan. Tanpa gagal itu, saya akan terus mengasah bagian yang sudah beres.
Lalu datang ujian ketiga, yang sampai sekarang masih sering saya ingat.
Desember 2017. 94 dari 180. Batas lulus N3 adalah 95.
Saya gagal dengan selisih satu poin.
Tidak ada pelajaran di kalimat itu. Sudah beberapa kali saya coba cari. Tidak bisa dibanding, tidak bisa berargumen bahwa tinggal sedikit lagi, dan ujian itu sama sekali tidak peduli berapa kali kamu sudah mencoba. Skor ya skor. Yang saya ingat adalah betapa anehnya rasanya benar-benar sedih karena sebuah angka, sambil sadar tidak ada apa pun yang bisa dikatakan soal itu.
Ya daftar lagi.
Lulus N3, Setahun Kemudian
Jadwal ujian berikutnya setelah gagal satu poin itu adalah Juli 2018, dan sejauh yang saya ingat, ujian itu tidak saya datangi sama sekali. Itu musim Tugas Akhir 1 dan Tugas Akhir 2 — pengerjaan dan sidang tugas akhir yang menutup kuliah fisika di ITB. Tidak ada ruang di dalamnya untuk ujian bahasa, jadi ujian bahasanya tidak terjadi.
Saya sebut ini karena inilah pertama kalinya keputusan semacam itu muncul di catatan saya, dan bukan yang terakhir. Sudah dua kali sidang tugas akhir jatuh bertabrakan dengan jadwal JLPT, dan dua-duanya dimenangkan sidangnya. Dua-duanya jawaban yang benar.
Jadi: Desember 2017, lalu Desember 2018. Saya lulus N3 di ujian JLPT keempat sepanjang hidup saya — 115 dari 180, dan kali ini listening 45 dari 60. Seksi yang dua tahun sebelumnya dapat 23 selesai sebagai yang terkuat dengan jarak yang jelas.
Bulan itu kebetulan sedang padat. Saya sedang menuntaskan tugas sebagai Koordinator Asisten Laboratorium Fisika Lanjut, S1 sudah selesai, dan jalan ke Jepang belum pasti. Sekitar setahun kemudian saya terbang ke Tsukuba.
N2 yang Saya Gagalkan Sebelum Berangkat dari Indonesia
Tujuh bulan setelah lulus N3, masih di Indonesia, saya mengikuti N2 pada Juli 2019.
66 dari 180. Kosakata dan tata bahasa 20, membaca 18, listening 28. Batas lulusnya 90. Ini hasil terburuk di seluruh catatan saya — secara angka mentah lebih buruk daripada percobaan N1 mana pun, padahal waktu itu saya sudah tiga tahun belajar bahasa Jepang.
Perhatikan angka membacanya: 18. Setiap seksi JLPT juga punya nilai minimum sendiri yang wajib dilewati, dan di level ini minimumnya 19. Jadi seandainya total saya entah bagaimana mencapai 90 pun, angka 18 itu tetap akan menggagalkan saya. Waktu itu saya tidak tahu, dan inilah kemunculan pertama masalah yang kemudian saya abaikan enam tahun lagi.
Saya ingin bisa bilang ada alasan dramatisnya. Tidak ada. Itu musim panas ketika semua hal lain sedang terjadi sekaligus: berkas pendaftaran, ujian bahasa Inggris, ujian masuk di Jepang bulan Agustus, dan seluruh urusan keberangkatan. N2 hanyalah satu item lagi di tumpukan, dan dia kebagian sisanya, yaitu tidak ada.
Ingat angka ini. Empat tahun kemudian, dialah angka paling berguna di seluruh artikel ini.
Empat Tahun di Jepang, Tanpa Satu Pun Ujian
Lalu saya sampai di negara asal bahasa itu, dan justru berhenti mengikuti ujiannya selama empat tahun.
Ini bagian yang akan saya ubah kalau bisa mengulang. Di sela S2 dan S3 selalu ada alasan riset untuk menunda JLPT — seminar, paper, eksperimen yang tidak bisa digeser. Lab akan selalu menyediakan satu alasan. Sudah saya tulis apa harganya waktu mulai cari kerja dan butuh satu baris bahasa di rirekisho: sertifikat yang tidak kamu punya adalah sertifikat yang tidak bisa meloloskanmu dari seleksi dokumen, dan jadwal rekrutmen tidak akan menunggu hasil ujianmu keluar.
Ambil JLPT lebih awal daripada yang diizinkan jadwal risetmu. Saya mengatakan itu sebagai orang yang justru tidak melakukannya.
Ujian yang Sama, Berjarak Empat Tahun
Juli 2023, tahun kedua S3: saya lulus N2 dengan skor 102 dari 180.
Bukan N2 pertama saya. Yang kedua — dan justru itulah yang membuatnya layak dicatat.
Saya harus jujur soal bagaimana itu terjadi, karena inilah sertifikat yang paling tidak saya perjuangkan: saya sendiri tidak begitu ingat belajarnya bagaimana. Tidak ada rutinitas, tidak ada rencana, tidak ada jadwal latihan soal. Memang tidak ada waktunya. Rasanya seperti N3 ditambah tiga tahun sekadar hidup di Jepang — lab, kantor kota, supermarket, pemilik apartemen, seluruh urusan biasa dari eksistensi sehari-hari di sebuah bahasa.
Dan justru karena itulah percobaan 2019 jadi penting. Sandingkan keduanya:
| N2, Juli 2019 | N2, Juli 2023 | |
|---|---|---|
| Waktu itu tinggal di | Indonesia | Jepang |
| Belajar khusus | praktis tidak ada | praktis tidak ada |
| Kosakata & tata bahasa | 20 / 60 | 31 / 60 |
| Membaca | 18 / 60 | 22 / 60 |
| Listening | 28 / 60 | 49 / 60 |
| Total | 66 / 180 | 102 / 180 |
Ujian yang sama. Orang yang sama. Persiapan sengaja yang kurang lebih sama banyaknya, yaitu nyaris nol di kedua kesempatan. Berjarak tiga puluh enam poin, dan satu-satunya variabel yang benar-benar berubah adalah saya sudah tiga tahun tinggal di Jepang.
Tapi lihat 36 poin itu datangnya dari mana. Listening naik 21 — sendirian dia mengerjakan hampir dua pertiganya. Kosakata dan tata bahasa naik 11. Membaca bergerak empat poin, dari 18 ke 22.
Saya lulus N2 dengan ditopang skor listening 49 dari 60. Membaca saya cuma tiga poin di atas batas minimum seksi. Waktu itu hasil ini saya baca sebagai “bahasa Jepang saya membaik” — benar, tapi jauh terlalu murah hati pada diri sendiri. Yang sebenarnya terjadi: bagian bahasa Jepang saya yang diberi makan oleh imersi membaik drastis, lalu menyeret sebuah ujian yang sebetulnya biasa saja melewati garis.
Itu eksperimen terkontrol soal imersi yang paling mendekati yang bisa saya jalankan pada diri sendiri, dan hasilnya tidak ambigu: tinggal di Jepang akan menaikkan bahasa Jepangmu dengan sendirinya. Imersi bukan mitos. Kamu akan membaik tanpa memutuskan untuk membaik.
Tapi, seperti yang segera saya temukan, janji itu punya langit-langit.
Tembok N1
Tiga kali percobaan. Tiga kali gagal. 74, lalu 53, lalu 73.
Batas lulus N1 adalah 100 dari 180 secara total, plus nilai minimum di tiap seksi — jadi 74 bukan “hampir”. Itu “belum”, jelas dan tanpa tafsir lain, yang disampaikan tiga kali.
Izinkan saya membahasnya satu per satu, karena ketiganya bukan kegagalan yang sama.
Juli 2024 — 74/180. Kosakata dan tata bahasa 24, membaca 19, listening 31. Tahun terakhir S3, pekerjaan sudah di tangan. Ini garis dasar saya yang jujur: seperti inilah N1 kalau saya kerjakan sebagai diri saya yang dibentuk kehidupan sehari-hari di Jepang, dengan sedikit persiapan tapi tanpa kampanye serius. Kurang dua puluh enam poin — dan membacanya mendarat tepat di batas minimum seksi, tanpa margin sedikit pun.
Desember 2024 — 53/180. Kosakata dan tata bahasa 12, membaca 8, listening 33. Skor terendah yang pernah saya dapat di ujian apa pun, sekaligus yang paling tidak mengganggu saya — karena itu bukan kolaps. Itu keputusan.
Bulan itu adalah bulan sidang doktoral pertama saya. Saya sudah mendaftar N1 jauh sebelum tahu bulan itu akan seperti apa, dan begitu bulannya tiba, tidak ada satu pun versi di mana saya bisa menyiapkan keduanya. Jadi tidak saya siapkan. Semuanya saya tumpahkan ke sidang, dan JLPT-nya tetap saya ikuti tanpa persiapan sama sekali, karena kursinya sudah dibayar dan tidak ada alasan untuk tidak datang.
53 dari 180 adalah harga persisnya. Saya kira-kira sudah tahu harganya waktu memilih, dan saya akan memilih hal yang sama lagi — sidang doktoral tidak bisa diulang seperti ujian bahasa. JLPT diadakan dua kali setahun, setiap tahun, selamanya. Sidangnya di bulan Desember itu.
Enam tahun sebelumnya, menghadapi tabrakan yang sama dengan sidang tugas akhir S1, saya mengambil keputusan yang sama dan langsung tidak ikut ujiannya. Satu-satunya yang berubah di antara keduanya: kali ini ujiannya tetap saya ikuti, dan skornya yang mencatat keputusan itu.
Ini saya jelaskan panjang karena grafik skor seperti punya saya mengundang pembacaan yang dramatis — mahasiswa yang kelelahan, tubuh yang menagih ongkos kerja berlebih — dan pembacaan itu keliru. Tidak ada yang jebol. Saya memilah prioritas.
Dan ujian tanpa persiapan itu ternyata jadi ujian paling informatif yang pernah saya kerjakan, karena alasan yang baru saya lihat bertahun-tahun kemudian. Sandingkan dengan Juli, lima bulan sebelumnya:
- Kosakata dan tata bahasa: 24 → 12. Separuhnya.
- Membaca: 19 → 8. Kurang dari separuh.
- Listening: 31 → 33. Justru naik.
Cabut semua persiapan, dan kemampuan yang dibangun lewat belajar jatuh bebas, sementara kemampuan yang dibangun karena tinggal di sini tidak merasakan apa-apa. Listening bukan sesuatu yang saya ulang-ulang pelajari; dia sesuatu yang sudah jadi milik saya. Di lembar nilai itu, semua yang lain ternyata cuma sewaan.
Desember 2025 — 73/180. Kosakata dan tata bahasa 20, membaca 13, listening 40. Yang ini yang benar-benar perih, dan justru inilah alasan artikel ini ada.
Saat itu saya sudah lulus, sudah pindah ke Tokyo, dan sudah mulai bekerja penuh waktu sebagai engineer. Bahasa Jepang saya pakai seharian. Training-nya berbahasa Jepang, laporan hariannya berbahasa Jepang, materinya berbahasa Jepang. Di atas kertas, ini seharusnya percobaan terkuat saya.
Hasilnya satu poin di bawah percobaan pertama — sementara listening saya mencapai 40, listening N1 terbaik saya sejauh ini. Ada yang membaik banyak dalam delapan belas bulan itu. Cuma saja, bukan bagian yang paling berat ditimbang ujiannya.
Kenapa Hidup dalam Bahasa Jepang Tidak Membawamu ke N1
Angka 73 itu memaksa saya mengakui sesuatu yang selama ini nyaman saya hindari: N1 bukan ujian tentang apakah kamu bisa hidup dalam bahasa Jepang.
Saya bisa. Setiap hari. Saya bisa berdiskusi teknis, menulis laporan harian, berdebat dengan sebuah prosedur administrasi dan menang. Tidak satu pun dari itu yang diukur N1.
Bahasa Jepang yang saya pakai adalah bahasa Jepang saya — kosakata bidang saya, rutinitas saya, rekan kerja saya, dokumen-dokumen saya. Dalam di satu kanal yang sempit. N1 bentuknya kebalikannya: sengaja luas, formal, literer, penuh konstruksi yang bisa saja tidak ditemui orang dewasa yang bekerja selama bertahun-tahun. Editorial koran. Tata bahasa yang ada untuk dikenali, bukan untuk diucapkan. Teks bacaan yang begitu panjang sampai yang diuji sebenarnya daya tahan.
Tinggal di sini membuat kanalnya makin dalam. Bukan makin lebar. Dan yang dihargai ujiannya cuma lebarnya.
Jadi pola yang saya temui di N3 kembali lagi satu level di atas, dengan bentuk yang sama dan jarak yang lebih besar: pada satu titik imersi berhenti membawamu, dan yang tersisa hanyalah belajar yang tidak keren itu — duduk, buka buku, kerjakan — yang justru paling gampang dimakan oleh pekerjaan penuh waktu dan program doktor.
Setidaknya itu teori saya. Lalu semua lembar nilai yang saya punya saya tarik ke dalam satu tabel untuk artikel ini — sesuatu yang belum pernah saya lakukan selama sepuluh tahun mengikuti ujian ini — dan teorinya ternyata benar, tapi kabur. Angkanya menyebut nama seksinya.
Membaca.
Ini skor membaca saya di setiap level sejak N3, berurutan:
22 · 32 · 37 · 18 · 22 · 19 · 8 · 13
Semua yang di kiri jeda itu N3. Semua yang di kanannya N2 dan N1, dan angkanya tidak pernah di atas 22 dari 60 selama tujuh tahun. Listening saya di rentang yang sama: 36, 34, 45, 28, 49, 31, 33, 40. Satu kolom bercerita tentang perbaikan yang stabil. Kolom satunya tergeletak sejak 2019, dan sungguh belum pernah saya sejajarkan sebelumnya.
Dan ada yang lebih buruk, sekaligus lebih berguna. Setiap seksi punya minimumnya sendiri — 19 dari 60 — yang wajib dilewati berapa pun total nilaimu:
- Juli 2024: membaca tepat 19. Persis di garis, tanpa margin.
- Desember 2024: membaca 8. Di bawah minimum.
- Desember 2025: membaca 13. Di bawah minimum.
Jadi untuk dua dari tiga percobaan N1 saya, nilai total tidak pernah jadi cerita yang sebenarnya. Seandainya 27 poin yang kurang itu saya temukan di tempat lain sekalipun, seksi membaca itu tetap akan menggagalkan saya sendirian. Tiga percobaan saya jalani sambil menganggap diri sebagai orang yang kurang poin. Padahal saya orang yang kurang di satu seksi tertentu, dan perbaikan yang serba umum tidak akan pernah menyelesaikannya.
Ini bagian yang paling berat saya tulis. Kebiasaan yang mengantar saya dari N4 ke N3 adalah membaca diagnosisnya lalu membidik seksi yang lemah — listening 23 mengirim saya ke variety show; membaca 22 mengirim saya kembali ke buku teks. Entah kapan sesudah itu, saya berhenti melakukannya. Saya terus ikut ujian, terus mencatat totalnya, terus menyimpulkan “belum cukup”, dan tidak sekali pun membuka rincian yang sebenarnya sudah tergeletak di sana sambil menunjukkan persis ke mana harus membidik.
Sepuluh tahun hasil ujian, dan hal paling berguna di dalamnya adalah sesuatu yang bisa saya baca dalam lima menit kapan saja sejak 2019.
Percobaan Keempat
Saya mengikuti N1 lagi pada pagi hari 5 Juli 2026, di Tokyo. Percobaan keempat.
Rasanya lebih baik daripada Desember. Saya mau hati-hati dengan kalimat itu, karena “rasanya lebih baik” adalah data paling tidak bisa dipercaya yang ada di dunia — saya pernah keluar ruang ujian dengan perasaan aman lalu gagal, dan saya mengerjakan yang 53 itu sambil tahu persis apa yang akan datang. Hasilnya keluar sekitar akhir Agustus. Bisa saja gagal lagi.
Saya tetap mendaftar, dan akan mendaftar lagi sesudahnya kalau memang perlu. Bukan persis karena keras kepala. Lebih karena saya pernah di sini sebelumnya: empat kali ujian untuk menembus N3, dan yang keempat berhasil.
Bedanya sekarang: ujian Juli itu saya kerjakan tanpa tahu apa yang baru saja saya susun sepanjang artikel ini. Kalau hasil bulan Agustus nanti gagal lagi, itu akan jadi kegagalan pertama yang datang bersama rencana — dan rencananya sederhana sampai memalukan, yang biasanya justru pertanda bagus. Perbanyak membaca. Baca hal-hal yang tidak akan pernah saya pilih sendiri. Baca terus sampai kolom membaca berhenti jadi kolom yang saya harap tidak ada yang melihat.
Sebagai catatan tambahan, kali ini pun tidak saya kerjakan sendirian — saya sedang menjalani bahasa Korea dan Mandarin tingkat pemula berbarengan, yang entah merupakan ide buruk untuk skor N1 saya atau justru alasan kenapa semua ini masih menyenangkan sampai sekarang. Mungkin dua-duanya.
Yang Akan Saya Katakan ke Orang yang Baru Mulai
- Daftar sebelum merasa siap. Tanggal ujian yang sudah dibayar lebih berharga daripada rencana belajar. Cuma sadari betul: pendaftaran dini membeli motivasi, bukan kelulusan.
- Perlakukan kegagalan sebagai diagnosis, bukan vonis — dan benar-benar baca diagnosisnya. Lembar N4 saya bilang listening 23/60; lembar N3 pertama saya bilang listening 36/60 dan membaca 22/60. Dua lembar kertas itu memberi tahu saya persis apa yang harus dikerjakan berikutnya, dua kali. Lalu tujuh tahun saya berhenti membacanya sambil bingung kenapa terus gagal. Kumpulkan semua hasil ujian yang pernah kamu terima ke dalam satu tabel. Butuh lima menit, dan dia akan memberi tahu sesuatu yang tidak akan pernah dikatakan nilai totalmu.
- Cek nilai minimum per seksi, bukan cuma totalnya. Dua kali saya gagal N1 dengan skor membaca di bawah batas minimum seksi — artinya poin yang saya kejar di tempat lain memang tidak akan menyelamatkan saya. Seksi yang di bawah minimum adalah masalah yang berbeda dari total yang kurang, dan obatnya pun berbeda.
- Perbaiki kemampuan terlemahmu dengan bahan yang benar-benar kamu nikmati. Variety show mengalahkan latihan listening karena saya terus menontonnya. Dari 23 ke 36 sambil naik satu level, dalam enam bulan, lewat sesuatu yang toh akan saya tonton juga. Metode terbaik adalah metode yang selamat melewati minggu yang berantakan.
- Jangan menunggu semester yang tenang. Tidak ada semester yang tenang. Saya menunda JLPT empat tahun di Jepang sambil menunggu riset agak reda, dan risetnya tidak pernah reda.
- Imersi membelikanmu listening. Dia tidak membelikanmu membaca. Di antara dua percobaan N2 saya — dari Indonesia ke Jepang, sama-sama tanpa belajar serius — listening naik 21 poin dan membaca naik empat. Itulah bentuk utuh imersi dalam dua angka. Tinggal di sini akan membawamu jauh secara gratis, dan membawamu hampir seluruhnya lewat telinga.
- Kalau dua hal bertabrakan, pilih, lalu terima harganya. Satu jadwal ujian saya lewatkan demi sidang tugas akhir S1, dan saya dapat 53 saat sidang doktoral. Dua-duanya keputusan yang benar — sidang cuma terjadi sekali, JLPT diadakan dua kali setahun selamanya. Yang tidak boleh dilakukan adalah menyiapkan keduanya setengah-setengah lalu kaget dengan hasil keduanya.
- Berkali-kali gagal bukan diskualifikasi dari apa pun. Saya memegang gelar doktor dari universitas Jepang dan bekerja sebagai engineer di sini dalam bahasa Jepang. Sertifikat N1 saya tidak ada. Dua-duanya benar sekaligus, dan internet luar biasa buruk dalam menyampaikan hal itu.
Cek Aturan yang Berlaku Sekarang
Level, batas kelulusan, nilai minimum per seksi, jadwal pendaftaran, dan biaya JLPT berubah dari waktu ke waktu, dan berbeda antara lokasi ujian di Jepang dan di luar negeri. Semua skor di atas disalin dari lembar hasil saya sendiri, dari ujian-ujian antara Desember 2016 dan Juli 2026 di Indonesia dan Jepang. Ambang yang saya jadikan patokan adalah 95/180 untuk N3, 90/180 untuk N2, dan 100/180 untuk N1, masing-masing ditambah nilai minimum 19/60 di setiap seksi di luar totalnya — itulah kenapa total yang bagus pun masih bisa gagal, dan kenapa dua dari percobaan N1 saya dikalahkan oleh satu seksi, bukan oleh totalnya. Pastikan aturan terbaru untuk level dan negaramu di situs resmi JLPT (jlpt.jp) sebelum mendaftar, dan jangan menyusun rencana belajar berdasarkan angka satu orang peserta.