Wisuda S3 di Jepang — Penutup Perjalanan Doktoral di University of Tsukuba
Wisuda S3 jadi penutup perjalanan panjang pendidikan formal saya. Pada 25 Maret 2025, saya resmi menyelesaikan program doktor di University of Tsukuba.
Wisuda S3 kemungkinan besar jadi momen terakhir dalam perjalanan pendidikan formal saya — gelar doktor adalah jenjang pendidikan tertinggi yang bisa ditempuh secara akademik. Setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran, akhirnya semua usaha itu terbayar dengan selembar ijazah.
”Biasa Saja” Dibanding Wisuda S1 di ITB
Kalau dibandingkan dengan pengalaman wisuda sebelumnya, khususnya saat lulus S1 di ITB, wisuda S3 kali ini terasa cukup biasa. Wisuda pasca-pandemi di University of Tsukuba tidak banyak berubah dibanding beberapa tahun sebelumnya — bedanya hanya suasana kampus yang jauh lebih ramai karena kehadiran keluarga para wisudawan, sesuatu yang tidak bisa dirasakan saat pandemi masih berlangsung.
Ini sejalan dengan yang pernah saya ceritakan di halaman Wisuda S2: wisuda di Jepang pada umumnya tidak semegah wisuda di Indonesia, khususnya di ITB.
Rangkaian Acara yang Sederhana
Rangkaian acaranya berlangsung sederhana. Para wisudawan dari departemen yang sama dikumpulkan dalam satu ruangan, lalu dipanggil satu per satu ke depan untuk menerima ijazah. Setelah semua wisudawan menerima ijazah masing-masing, acara pun selesai.
Dari pengalaman pribadi saya, baik wisuda S2 maupun S3 di University of Tsukuba terasa “biasa saja” — kemungkinan besar karena gap pengalaman emosional yang cukup besar dibanding wisuda S1 di ITB, yang membuat wisuda di Jepang terasa lebih datar secara emosional, meskipun maknanya tetap besar.
Kenapa Tidak Lanjut Post-Doktoral?
Setelah menyelesaikan S3, saya memasuki fase kehidupan yang dijalani sebagian besar orang: bekerja di perusahaan. Saya sudah mendaftar ke perusahaan tempat saya bekerja sekarang sejak sekitar satu tahun sebelum kelulusan — cerita soal pencarian kerja ini akan saya tulis di halaman terpisah.
Soal kenapa saya tidak langsung lanjut ke jenjang post-doktoral, jawabannya cukup sederhana: saya ingin istirahat dari dunia riset. Selama S2 dan S3, riset sudah menguras cukup banyak tenaga dan pikiran saya. Di fase ini, saya merasa perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk mempelajari hal-hal lain di luar riset, menggali ilmu di bidang berbeda, dan memperluas perspektif.
Dengan ini, perjalanan saya dalam seri perkuliahan — khususnya S2 dan S3 — saya tutup untuk sementara. Tidak menutup kemungkinan saya akan menambahkan cerita tentang masa S1 di kemudian hari. Untuk sekarang, saya memilih melanjutkan cerita ke fase berikutnya dalam hidup saya: dunia kerja.