Wisuda S2 di Jepang – Sederhana, Sunyi, dan Hadiah yang Tidak Terduga

25 Maret 2022. Hari wisuda S2 saya di University of Tsukuba.

Tidak ada arak-arakan. Tidak ada sorak sorai. Tidak ada kerumunan keluarga yang menunggu di luar gedung. Yang ada hanya prosesi singkat di tingkat fakultas — nama dipanggil satu per satu, ijazah diserahkan, selesai.

Jauh berbeda dari wisuda S1 saya di ITB pada Oktober 2018 yang terasa jauh lebih meriah.


Wisuda yang Setengah Terlewat

Jujur saja, saya bahkan tidak mengikuti graduation ceremony utama hari itu.

Pagi harinya saya masih harus menyelesaikan eksperimen di lab. Jadi saya baru datang siang hari — mengambil ijazah, berfoto sebentar untuk dokumentasi, lalu kembali ke rutinitas seperti biasa.

Mungkin terdengar kurang dramatis untuk sebuah momen yang seharusnya besar. Tapi itulah kenyataannya.

Salah satu faktornya adalah efek pandemi yang masih menyisakan kehati-hatian — meski tidak seketat tahun-tahun sebelumnya, kegiatan berkerumun belum benar-benar kembali normal. Wisuda tahun itu terasa sunyi di mana-mana, bukan hanya bagi saya.


Hadiah dari Pembimbing yang Tidak Terduga

Setelah mengambil ijazah, saya pergi ke lab untuk berfoto bersama pembimbing.

Di luar dugaan, beliau sudah menyiapkan hadiah kelulusan.

Hadiahnya cukup unik — dan sangat “bernuansa riset”: sebuah sendok es krim khusus yang terbuat dari material dengan konduktivitas termal tinggi. Cara kerjanya sederhana tapi elegan: panas dari telapak tangan langsung mengalir ke ujung sendok, membuat es krim cup yang biasanya keras menjadi jauh lebih mudah disendok.

Buat orang lain mungkin terdengar seperti hadiah biasa. Tapi buat saya yang dua tahun terakhir meneliti tentang perpindahan panas dan photothermal heating, hadiah itu terasa sangat personal.

Pembimbing saya memilih sesuatu yang begitu dekat dengan dunia riset yang saya tekuni. Dan itu lebih berkesan dari hadiah mahal manapun.


Lega — Tapi Hanya Sehari

Di hari wisuda itu saya merasa lega. Beban dua tahun terasa terangkat seketika.

Tapi rasa lega itu hanya bertahan satu hari.

Karena keesokan harinya, kenyataan sudah menunggu:

1 April 2022 — hari pertama saya sebagai mahasiswa doktoral.

Bersamaan dengan itu, datang pula tuntutan yang tidak kecil: mempublikasikan tiga jurnal ilmiah dalam tiga tahun masa studi. Secara tidak langsung artinya satu jurnal per tahun — setiap tahun, tanpa jeda.

Perjalanan baru yang tidak kalah menantang dari sebelumnya sudah menunggu di depan.


Penutup S2: Dua Tahun yang Membentuk Segalanya

Kalau saya merangkum dua tahun S2 di University of Tsukuba dalam satu kalimat:

Ini bukan perjalanan yang mulus — tapi justru itulah yang membuatnya berharga.

Dari mahasiswa yang tidak tahu apa-apa soal lab Jepang, belajar di tengah pandemi, hampir tidak jadi lanjut S3, sampai menemukan teknik riset yang akhirnya jadi fondasi PhD — semuanya terjadi dalam dua tahun itu.

Cerita S2 selesai. Cerita S3 baru saja dimulai.