Pengalaman Ujian TOEFL iBT untuk Daftar S3 di Jepang (Skor 87)
Kalau di artikel S2 saya cerita soal TOEIC, kali ini beda ceritanya. Untuk mendaftar program doktoral (S3) dan NIMS-GRA, saya harus mengambil TOEFL iBT — bukan karena pilihan, tapi karena keadaan yang memaksa.
Di artikel ini saya ceritakan kenapa saya akhirnya pindah dari TOEIC ke TOEFL, berapa biayanya, bagaimana persiapan singkat yang saya lakukan, dan skor akhir yang saya dapatkan.
Kenapa Harus TOEFL, Bukan TOEIC Lagi?
Sertifikat TOEIC yang saya pakai waktu daftar S2 dulu sudah kedaluwarsa saat masa pendaftaran S3 dimulai. Jadi saya butuh sertifikat bahasa Inggris baru.
Awalnya saya ingin ambil TOEIC lagi — lebih murah dan saya sudah familiar dengan formatnya. Tapi ternyata saya kurang informasi soal satu hal penting: antrean tes TOEIC di Jepang bisa panjang banget, kadang harus menunggu 2–3 bulan sebelum bisa ujian.
Sementara TOEFL iBT? Saya bisa langsung daftar dan ikut ujian di test site terdekat dalam waktu singkat. Karena waktu pendaftaran S3 yang mepet, saya akhirnya terpaksa ambil TOEFL — meskipun tahu itu akan lebih mahal dan lebih sulit.
Biaya: Selisih yang Cukup Terasa
| Tes | Perkiraan Biaya |
|---|---|
| TOEIC | ~8.000 yen |
| TOEFL iBT | ~30.000 yen |
Selisih 20.000 yen ini bukan angka kecil buat saya waktu itu. Tapi karena keterbatasan waktu, tidak ada pilihan lain selain membayar lebih mahal demi kepastian jadwal ujian.
Persiapan: Kurang dari 2 Minggu
TOEFL dikenal lebih sulit dari TOEIC, tapi waktu saya benar-benar terbatas. Saya hanya sempat belajar kurang dari dua minggu, dan itu pun fokus di dua bagian saja: reading dan listening.
Untuk speaking dan writing, saya jujur saja pasrah — mengandalkan kemampuan bahasa Inggris yang sudah ada saat itu, tanpa persiapan khusus.
Hari Ujian: Pertama Kali ke Tokyo untuk Tes
Ini pertama kalinya saya ambil TOEFL iBT, sekaligus pertama kalinya saya harus ke Tokyo khusus untuk tes. Saya berangkat pagi-pagi dari Tsukuba.
Sesampainya di lokasi, prosesnya cukup sederhana: tunjukkan ID, tunggu giliran masuk ruangan, cek speaker dan microphone, lalu langsung mulai ujian.
Hasil: Skor Total 87
| Bagian | Skor |
|---|---|
| Reading | 19 |
| Listening | 26 |
| Speaking | 20 |
| Writing | 22 |
| Total | 87 |
Bagian reading terasa paling menyiksa — panjang, membosankan, bikin ngantuk. Listening lumayan oke. Sementara speaking… ya, bisa dibayangkan rasanya harus bicara keras-keras di ruangan yang sama dengan peserta lain. Tapi itu bukan alasan — saya akui saja, persiapan saya memang kurang di bagian itu.
Pelajaran: Skornya Cuma Syarat Administrasi
Dengan skor itu, saya akhirnya bisa mendaftar ke program doktoral. Belakangan saya baru tahu satu hal yang cukup melegakan: skor bahasa Inggris ternyata tidak dipakai sebagai penilaian utama — hanya syarat administrasi untuk bisa mendaftar.
Jadi kalau kamu ada di posisi yang sama — cek dulu apakah skor bahasa Inggris di universitas tujuanmu benar-benar dinilai atau cuma jadi syarat kelengkapan. Kalau cuma syarat administrasi, pilih saja tes yang paling mudah dan murah, seperti TOEIC. Di Jepang, TOEIC masih sangat diterima untuk pendaftaran kuliah, dan biayanya jauh lebih bersahabat di kantong.
Kalau kamu sudah tahu dari awal bahwa skormu akan dipakai untuk penilaian, baru pertimbangkan tes yang levelnya sesuai kebutuhan.