Student Seminar Desember 2021 – Topik Baru, Waktu 4 Bulan, dan Arah Riset yang Berubah Total
Tahun 2021 adalah tahun paling sibuk yang pernah saya jalani selama studi di Jepang.
Dan puncaknya? Datang di student seminar Desember — ketika saya harus mempresentasikan topik riset yang bahkan belum pernah saya sentuh sebelumnya.
Semester yang Penuh Tekanan
Sejak pertengahan 2021 — sekitar Juni — hidup saya sudah penuh dengan banyak hal sekaligus:
- Riset harian di laboratorium
- Menulis esai untuk mendaftar program doktoral
- Persiapan ujian masuk S3
Di tengah itu semua, saya punya satu pikiran yang terus memotivasi: “Kalau bisa dapat hasil riset yang bagus sebelum ujian S3, itu pasti jadi nilai plus.”
Setelah ujian masuk S3 selesai, saya kembali fokus mengambil data. Arah riset saya masih sama seperti tahun sebelumnya — saya mengira tinggal melanjutkan dan memperdalam topik yang sudah saya presentasikan di student seminar 2020.
Sampai pembimbing berkata sesuatu yang tidak saya duga.
Kalimat yang Mengubah Segalanya
“Kamu tidak bisa lulus hanya dengan topik itu saja.”
Saya kaget.
Bukan karena topik itu buruk — tapi karena implikasinya langsung terasa. Saya tidak boleh menunjukkan kembali hasil yang sudah dipresentasikan tahun lalu. Bahkan menampilkan perkembangan dari topik lama pun tidak diperbolehkan.
Artinya: mulai dari nol. Dengan topik yang baru. Dengan waktu yang sangat sedikit.
Topik Baru yang Belum Pernah Disentuh
Untuk student seminar 2021, saya akhirnya mempresentasikan sesuatu yang benar-benar berbeda.
Masih dalam lingkup photothermal heating, tapi kali ini masuk ke wilayah yang belum pernah saya kerjakan sama sekali:
Mengembangkan quantitative phase microscopy (QPM) untuk mengukur suhu cairan yang dipanaskan oleh laser — hingga terbentuknya gelembung gas (bubble formation) pada kondisi superheating, yaitu saat temperatur cairan melampaui titik didih normalnya.
Saya mulai desain optik dan proses alignment-nya sekitar Juli–Agustus 2021.
Student seminar dilaksanakan Desember 2021.
Artinya saya hanya punya 4–5 bulan untuk memulai proyek yang benar-benar baru, di bidang yang belum pernah saya sentuh sebelumnya.
Gila — Tapi Berhasil
Kalau dipikir ulang sekarang, itu memang gila.
Tapi yang lebih mengejutkan lagi: saya berhasil mendapatkan hasil yang cukup untuk dipresentasikan.
Bukan hasil yang sempurna — masih butuh eksperimen tambahan untuk dilanjutkan. Tapi cukup untuk berdiri di depan reviewer dan menunjukkan bahwa proyeknya hidup dan ada progresnya.
Pivot yang Tidak Direncanakan, Tapi Mengubah Arah Riset Saya
Karena saya akan wisuda Magister pada Maret 2022 dan melanjutkan program doktoral mulai April, tidak ada banyak ruang untuk memperpanjang eksperimen ini dalam waktu singkat.
Tapi justru dari proyek “mepet” inilah arah riset saya berubah total.
Teknik QPM yang awalnya saya kerjakan hanya untuk memenuhi kebutuhan student seminar, akhirnya berkembang menjadi fokus utama riset doktoral saya. Selama jenjang PhD, saya mengembangkan metode ini lebih dalam dan berhasil mempublikasikan tiga jurnal sebagai first author.
Ironisnya, topik awal yang memicu semuanya — pengukuran suhu cairan di kondisi superheating — justru tidak pernah menjadi jurnal. Ada beberapa fenomena fundamental yang sampai sekarang masih belum bisa saya jelaskan secara tuntas.
Tapi justru dari ketidakpastian itulah saya menemukan arah riset yang baru, lebih solid, dan lebih “saya”.
Pelajaran dari Student Seminar 2021
Kalau kamu sedang dalam situasi di mana semuanya terasa mepet, tidak pasti, dan kamu harus mulai dari nol di waktu yang tidak ideal — ini yang saya pelajari dari pengalaman itu:
- Tekanan bisa jadi katalis. Tanpa deadline ketat dan tuntutan topik baru, saya mungkin tidak pernah menyentuh QPM sama sekali
- Tidak semua yang gagal jadi jurnal itu sia-sia. Kadang satu proyek yang “tidak selesai” justru membuka pintu ke arah yang lebih baik
- Riset jarang berjalan sesuai rencana — dan itu bukan tanda kegagalan, itu tanda bahwa kamu sedang benar-benar melakukan eksplorasi