Tips Lulus Ujian Masuk S2 University of Tsukuba – Applied Physics

Masuk S2 di Jepang terdengar menakutkan — apalagi kalau ujiannya dalam format yang belum pernah kamu temui sebelumnya. Saya juga pernah ada di posisi itu, tidak tahu apa yang akan dihadapi, datang ke Jepang hanya bermodal persiapan seadanya.

Ternyata? Tidak seseram yang dibayangkan.

Di artikel ini saya ceritakan pengalaman ujian masuk S2 jurusan Applied Physics di University of Tsukuba — mulai dari format soal, strategi memilih pertanyaan, sampai momen masuk ruang wawancara dan kaget melihat 20 professor duduk menunggu saya.


Format Ujian: 1000 Poin Total

Ujian masuk S2 Applied Physics di University of Tsukuba terbagi menjadi tiga bagian dengan total nilai 1000 poin:

BagianPoin
Ujian Tulis500
Bahasa Inggris200
Wawancara300
Total1000

Kabar baiknya — bagian Bahasa Inggris tidak ada ujian langsung. Nilainya diambil dari sertifikat yang kamu kumpulkan saat pendaftaran. Jadi secara efektif, kalau sertifikat bahasa Inggrismu sudah memenuhi syarat, kamu sudah punya 200 poin di kantong sebelum ujian dimulai.


Bagian 1 — Ujian Tulis (500 Poin)

Struktur Soal

Ada 6 kategori soal yang bisa dipilih, dibagi menjadi dua kelompok:

Dasar:

  • Matematika
  • Mekanika
  • Elektromagnetik

Lanjut:

  • Mekanika Kuantum
  • Optik
  • Semikonduktor

Aturan Pemilihan

Kamu hanya perlu mengerjakan 4 dari 6 kategori, dengan ketentuan:

  • Matematika wajib dikerjakan
  • ✅ Pilih 3 lainnya bebas, tapi minimal satu dari Mekanika atau Elektromagnetik

Artinya ada cukup fleksibilitas — kamu bisa memilih sesuai kekuatan masing-masing.

Strategi & Pengalaman Pribadi

Pilihan saya waktu itu:

  1. Matematika (wajib)
  2. Mekanika
  3. Elektromagnetik
  4. Mekanika Kuantum

Awalnya saya berencana memilih Optik sebagai pilihan keempat. Tapi begitu melihat soalnya saat ujian, saya langsung sadar itu bukan pilihan yang tepat. Saya ganti ke Mekanika Kuantum — dan beruntung, soalnya mirip dengan materi fisika kuantum yang pernah saya pelajari di S1.

Tips dari pengalaman ini: Jangan kaku dengan rencana awal. Saat ujian, luangkan 2–3 menit untuk lihat sekilas semua soal sebelum mulai mengerjakan — lalu pilih yang paling kamu kuasai.

Untuk Matematika, topiknya bervariasi setiap tahun jadi tidak bisa diprediksi. Yang bisa kamu lakukan adalah mereview topik-topik yang kamu rasa paling lemah sejak jauh-jauh hari.


Bagian 2 — Bahasa Inggris (200 Poin)

Ini bagian yang paling mudah dimaksimalkan — karena tidak ada ujian langsung. Nilai diambil dari sertifikat bahasa Inggris yang kamu kirimkan saat pendaftaran dokumen.

Syarat untuk mendapatkan nilai penuh 200 poin:

TOEICTOEFL iBTIELTS
860+98+7.0+

Kalau skor kamu di atas batas ini, nilai bahasa Inggrismu otomatis maksimal.

Pengalaman & Saran

Saya ambil TOEIC pertama kali di tahun 2019 dengan persiapan sekitar dua minggu — dan berhasil dapat 940/990. Nilai ini langsung memenuhi syarat poin maksimal untuk komponen bahasa Inggris di University of Tsukuba.

Kalau kamu belum punya sertifikat bahasa Inggris, TOEIC adalah pilihan paling efisien untuk tujuan kuliah di Jepang. Banyak universitas Jepang yang masih menerimanya, biayanya lebih terjangkau, dan persiapannya lebih singkat dibanding TOEFL iBT atau IELTS.

Detail persiapan TOEIC saya sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya.


Bagian 3 — Wawancara (300 Poin)

Ini bagian yang paling bikin deg-degan — setidaknya buat saya.

Yang Perlu Kamu Tahu Sebelumnya

Wawancara berlangsung sangat singkat, biasanya kurang dari 5 menit termasuk perkenalan diri. Dan menurut saya, pada saat wawancara dimulai, pihak universitas sebenarnya sudah punya gambaran apakah kamu akan diterima atau tidak — mereka sudah melihat nilai ujian tulis dan bahasa Inggrismu. Wawancara ini lebih berfungsi sebagai konfirmasi terakhir bahwa kamu memang layak diterima.

Jadi: tenang saja.

Pertanyaan yang Diajukan

Berdasarkan pengalaman saya, pertanyaannya cukup sederhana:

  1. Perkenalkan diri kamu
  2. Sudah menentukan calon dosen pembimbing? Siapa?
  3. Untuk biaya kuliah, siapa yang menanggung?

Tidak ada pertanyaan teknis soal riset. Tidak ada soal fisika mendadak. Santai.

Momen Paling Tak Terduga: 20 Professor

Satu hal yang benar-benar tidak saya antisipasi — dan mungkin kamu juga tidak akan mengira — adalah jumlah orang di ruang wawancara.

Saya masuk dengan ekspektasi akan berhadapan dengan 3–5 orang penguji. Yang terjadi? Ada sekitar 20 professor duduk berjejer menunggu saya.

Reaksi pertama saya: kaget. Tapi saya tarik napas, tetap senyum, dan duduk di tempat yang sudah disediakan mengikuti instruksi host wawancara.

Ternyata prosesnya berjalan lancar:

  • Pertanyaan pertama: perkenalan diri — nama, nomor ujian, asal negara, dan latar belakang singkat
  • Pertanyaan kedua: calon dosen pembimbing — karena saya sudah menghubungi beliau sebelumnya, saya langsung sebut namanya, dan beliau mengangkat tangan mengkonfirmasi bahwa kami sudah berkomunikasi
  • Pertanyaan ketiga: pembiayaan — saya jawab bahwa jika diterima, biaya akan ditanggung oleh NIMS melalui program NIMS-GRA. Kalau tidak diterima, saya akan mengundurkan diri

Dan selesai. Mungkin sekitar 3 menit total.


Kesimpulan: Lebih Mudah dari yang Dibayangkan

Ujian masuk S2 di Jepang memang terdengar berat, tapi kalau kamu sudah mempersiapkan diri dengan baik — khususnya sertifikat bahasa Inggris dari jauh hari dan memilih mata ujian sesuai kekuatan — prosesnya jauh lebih manageable dari ekspektasi.

Tiga hal yang paling penting untuk dibawa masuk ujian:

  1. Skor bahasa Inggris yang sudah memenuhi syarat — ini 200 poin gratis
  2. Ketenangan saat wawancara — mereka hanya ingin tahu kamu siap
  3. Fleksibilitas saat ujian tulis — jangan kaku, pilih soal yang kamu paling kuasai saat itu

Kalau ada pertanyaan spesifik tentang ujian masuk ini, jangan ragu hubungi saya.