Berangkat ke Jepang dengan Researcher Visa – Januari 2020

29 Januari 2020. Itulah hari pertama saya menjejakkan kaki di Jepang.

Tidak ada yang tahu waktu itu bahwa dua bulan kemudian, dunia akan berubah total. Tapi pada saat itu, yang ada di kepala saya hanya satu: saya akhirnya benar-benar pergi ke Jepang.


Rencana Awal: Berangkat April 2020

Setelah menerima pengumuman resmi diterima di program S2 University of Tsukuba, rencana awalnya sederhana — berangkat menjelang 1 April 2020, yaitu hari pertama tahun akademik baru di Jepang.

Semua terlihat normal. Tidak ada tanda-tanda bahwa dunia akan segera dilanda sesuatu yang mengubah segalanya. Pandemi COVID-19 belum ada di radar siapapun.


Kabar dari Pembimbing: Berangkat Lebih Awal

Pada Oktober 2019, calon pembimbing saya di Jepang menghubungi lewat email dengan kabar yang tidak saya duga.

Beliau mengusulkan agar saya datang lebih awal — mulai kegiatan penelitian pada Februari 2020 — supaya punya waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus, laboratorium, dan kehidupan di Jepang sebelum perkuliahan resmi dimulai. Artinya saya harus berangkat di akhir Januari 2020, dua bulan lebih awal dari rencana semula.

Tawaran yang jelas tidak saya tolak.


Kebaikan yang Tidak Saya Duga

Di email yang sama, ada satu hal lagi yang membuat saya terdiam cukup lama saat membacanya.

Beliau tahu bahwa saya belum mendapat kepastian soal NIMS-GRA — program yang akan membiayai kuliah dan kehidupan saya di Jepang. Tanpa diminta, beliau langsung menawarkan:

  • Memberikan uang saku selama dua bulan pertama (Februari dan Maret 2020)
  • Siap membantu mencari alternatif pendanaan kalau saya tidak lolos NIMS-GRA

Saya masih ingat perasaan saat membaca email itu. Campur aduk antara terharu, lega, dan tidak percaya. Di negeri yang belum pernah saya kunjungi, ada seseorang yang sudah lebih dulu percaya pada saya bahkan sebelum saya sampai di sana.

Ini menjadi salah satu momen awal yang membuat saya merasa sangat beruntung memiliki pembimbing seperti beliau.


Proses Visa Researcher: Lebih Cepat dari Dugaan

Banyak yang mengira proses visa Jepang itu rumit dan lama. Pengalaman saya? Sebaliknya.

Berikut timeline lengkap prosesnya:

TanggalProses
Awal Januari 2020CoE (Certificate of Eligibility) selesai diproses
20 Januari 2020CoE tiba di rumah
20 Januari 2020Langsung urus visa di Konsulat Jepang
23 Januari 2020Visa Researcher resmi di tangan (hanya 3 hari kerja!)
29 Januari 2020Berangkat ke Jepang

Catatan penting: Status visa saya waktu itu adalah Researcher, bukan Student — karena secara resmi saya belum berstatus mahasiswa sampai 1 April 2020. Pergantian visa dari Researcher ke Student saya ceritakan di halaman terpisah.

Untuk kamu yang berencana berangkat ke Jepang lewat jalur yang sama: selama CoE sudah di tangan, proses visa relatif cepat. Yang perlu dipersiapkan lebih awal adalah dokumen untuk mengurus CoE-nya.


29 Januari 2020 — Pertama Kali Menjejakkan Kaki di Jepang

Saat pesawat mendarat dan saya keluar dari bandara, ada perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Campuran antara excited, takut, dan sadar penuh bahwa hidup saya baru saja masuk ke babak yang sama sekali baru.

Saya belum tahu waktu itu bahwa dua bulan kemudian COVID-19 akan mengunci seluruh dunia. Bahwa perkuliahan akan dimulai secara online. Bahwa Jepang akan menutup perbatasannya selama bertahun-tahun.

Tapi itu cerita untuk halaman berikutnya.