Ujian bahasa Inggris (TOEFL iBT) [2021]
Artikel ini membahas pengalaman saya mengikuti TOEFL iBT di Jepang pada tahun 2021 sebagai syarat pendaftaran program doktoral (S3) dan NIMS-GRA. Mulai dari alasan memilih TOEFL dibanding TOEIC, biaya ujian, persiapan singkat, hingga fungsi skor TOEFL dalam seleksi.
Demi mendaftar NIMS-GRA untuk program doktoral dan nantinya mengikuti ujian masuk S3, saya membutuhkan sertifikat bahasa Inggris yang masih aktif. Masalahnya, sertifikat TOEIC yang saya gunakan saat mendaftar program Magister sudah kedaluwarsa saat masa pendaftaran doktoral dimulai. Jadi, saya harus mengambil tes bahasa Inggris yang baru.
Awalnya, saya ingin mengambil TOEIC lagi karena lebih murah dan jauh lebih mudah. Tetapi karena ketidaktahuan saya tentang sistem tes bahasa Inggris di Jepang, saya salah perhitungan. Saya baru tahu bahwa antrean tes TOEIC di Jepang bisa sangat panjang — kadang harus menunggu 2–3 bulan sebelumnya. Sementara untuk TOEFL iBT, saya bisa langsung daftar dan ikut ujian di test site terdekat dalam waktu singkat.
Akhirnya, mau tidak mau saya harus mendaftar TOEFL iBT. Harganya? Hampir 30.000 yen. Padahal kalau ambil TOEIC, mungkin hanya sekitar 8.000 yen. Pada saat itu, selisih 20.000 yen bukan angka kecil buat saya. Tapi tidak ada pilihan lain.
Karena TOEFL dikenal lebih sulit daripada TOEIC, saya harus menyiapkan diri dalam waktu yang terbatas. Kalau tidak salah, saya hanya belajar kurang dari dua minggu — fokus di reading dan listening saja. Bagian speaking dan writing saya pasrahkan pada kemampuan bahasa Inggris saya saat itu.
Hari ujian tiba. Ini pertama kalinya saya mengambil TOEFL iBT, dan juga pertama kalinya saya tes di Tokyo. Saya berangkat pagi-pagi dari Tsukuba menuju Tokyo. Sesampainya di lokasi tes, saya hanya menunjukkan ID dan menunggu giliran masuk ruangan. Setelah duduk, langsung melakukan pengecekan speaker dan microphone, lalu mulai ujian.
Hasil akhirnya: total skor 87. Rinciannya: Reading 19, Listening 26, Speaking 20, Writing 22.
Jujur, bagian reading terasa paling menyiksa — panjang, membosankan, dan membuat ngantuk. Listening cukup lumayan, sementara speaking… ya, bisa dibayangkan rasanya berbicara keras-keras di ruangan yang sama dengan peserta lain. Tapi, tetap saja, itu bukan alasan. Mungkin saya memang kurang persiapan.
Dengan skor TOEFL itu, saya akhirnya bisa mendaftar ke program doktoral. Bahkan pada akhirnya saya tahu bahwa skor bahasa Inggris tidak digunakan sebagai penilaian utama — hanya sebagai syarat administrasi.
Jadi, saran dari saya: kalau nilai bahasa Inggris tidak digunakan untuk evaluasi apa pun, pilih saja tes yang paling mudah dan paling murah, seperti TOEIC. Di Jepang, TOEIC masih sangat diterima untuk pendaftaran kuliah, dan harganya jauh lebih manusiawi.
