Sidang pertama doktoral (Desember 2024)

Sidang pertama doktoral merupakan salah satu tahap paling menegangkan dalam perjalanan studi S3 di Jepang. Pada fase ini, tekanan bukan hanya datang dari kesiapan riset, tetapi juga dari ketidakpastian syarat kelulusan dan publikasi jurnal internasional.

Sidang doktoral pertama saya dilaksanakan pada bulan Desember 2024. Untuk bisa sampai ke tahap ini, jujur saja, perjalanannya penuh drama. Salah satu penyebab utamanya adalah syarat kelulusan program doktoral: publikasi tiga jurnal internasional setelah resmi menjadi mahasiswa doktor.

Memasuki bulan November 2024, saya masih diliputi rasa takut dan ketidakpastian. Saya terus bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar bisa mendaftar sidang doktoral dan lulus pada bulan Maret 2025? Saat itu, posisi saya masih sangat bergantung pada status publikasi jurnal.

Akhirnya, setelah paper kedua saya sebagai mahasiswa doktoral—yang secara keseluruhan merupakan paper ketiga saya—resmi terbit pada November 2024, barulah saya diperbolehkan mendaftarkan diri untuk sidang. Dari titik itu, proses administrasi mulai berjalan, dan saya pun akhirnya dijadwalkan untuk mengikuti sidang pertama doktoral.

Tentang Syarat Kelulusan yang Tidak Pernah Jelas

Sedikit menyinggung soal syarat kelulusan, aturan mengenai kewajiban tiga publikasi ini sebenarnya tidak pernah saya temukan secara tertulis. Setidaknya, tidak ada dokumen resmi yang secara jelas menjabarkannya. Aturan ini lebih terasa sebagai aturan institusional tidak tertulis yang berlaku secara praktik. Bahkan, ada beberapa mahasiswa dari program studi yang sama dengan saya yang bisa lulus program doktor hanya dengan satu publikasi jurnal. Ketidakjelasan inilah yang sering kali menimbulkan kebingungan dan tekanan tersendiri bagi mahasiswa.

Hal yang cukup membuat saya sedih adalah kenyataan bahwa paper yang saya publikasikan di tahun pertama program doktor—yang datanya berasal dari riset saat saya masih mahasiswa magister—tidak dihitung sebagai syarat kelulusan. Padahal, ketika saya masih di program master, saya diberi tahu bahwa paper tersebut bisa digunakan untuk memenuhi syarat kelulusan doktoral. Lebih mengejutkannya lagi, informasi bahwa paper tersebut tidak diperhitungkan baru saya terima saat baru masuk tahun ketiga perkuliahan doktoral. Saat itu saya benar-benar shock. Artinya, saya masih harus bekerja ekstra keras untuk mempublikasikan satu paper tambahan dalam waktu yang relatif singkat.

Kondisi Mental Menjelang Sidang

Menjelang sidang pertama doktoral, kondisi mental saya bisa dibilang cukup tertekan. Meskipun saya sudah diperbolehkan mendaftar sidang, pada kenyataannya saya masih memiliki satu target besar yang belum selesai: mempublikasikan satu paper lagi. Artinya, saya tidak bisa benar-benar berhenti melakukan eksperimen. Di tengah persiapan sidang, saya masih harus bolak-balik ke lab untuk mendapatkan hasil yang lebih baik—baik berupa data utama maupun tambahan sebagai penguat argumen.

Di fase ini, waktu terasa sangat pendek. Jam tidur mau tidak mau harus dikorbankan. Selain menyiapkan slide presentasi untuk sidang, saya juga sudah harus mulai menulis draft tesis yang nantinya akan dibagikan kepada para penguji satu minggu sebelum sidang pertama. Proses ini cukup melelahkan karena jumlah halaman tesis yang harus disiapkan tidak sedikit. Menyusun alur cerita penelitian, memastikan konsistensi data, dan menuliskan diskusi dengan bahasa yang tepat membutuhkan fokus dan energi yang besar. Pada titik ini, kelelahan bukan hanya fisik, tetapi juga mental.

Persiapan dan Pelaksanaan Sidang

Banyak yang mengatakan bahwa sidang pertama doktoral merupakan bagian tersulit karena sifatnya tertutup dan hanya dihadiri oleh para profesor penguji. Dalam sidang saya, terdapat empat profesor: satu pembimbing utama saya, dua profesor dari NIMS, dan satu profesor dari University of Tsukuba.

Persiapan untuk sidang ini relatif singkat. Saya mulai benar-benar fokus sekitar dua hingga tiga minggu sebelum hari-H. Saya melakukan dua kali rehearsal bersama pembimbing, dan selebihnya saya berlatih sendiri. Latihan tersebut terutama untuk merapikan alur presentasi, menghafalkan poin-poin penting yang ingin saya sampaikan, serta menyiapkan figur atau tabel tambahan yang mungkin dibutuhkan untuk menjelaskan hal-hal secara lebih detail saat sesi tanya jawab.

Dari sisi administrasi, saya relatif beruntung. Proses pendaftaran dan pengurusan dokumen sidang sebagian besar ditangani oleh pembimbing saya, sehingga saya tidak terlalu direpotkan dengan urusan administratif.

Pada hari-H sidang, tugas saya justru terasa sangat sederhana. Hal kecil yang perlu saya lakukan hanyalah membeli minuman—air mineral dan teh—yang nantinya disediakan untuk para profesor penguji apabila mereka ingin minum selama sidang berlangsung. Hal sederhana ini terasa kontras dengan tekanan mental yang sudah saya rasakan selama berminggu-minggu sebelumnya.

Durasi Sidang dan Kesan yang Tersisa

Satu hal yang cukup berkesan adalah durasi sidang pertama tesis saya yang ternyata cukup panjang. Jika saya ingat dengan benar, sesi presentasi berlangsung sekitar 30 menit, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang bisa mencapai satu jam. Banyak bagian dari tesis yang perlu diperjelas, diperdalam, dan diperbaiki. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan cukup detail, mulai dari metodologi, interpretasi data, hingga arah penelitian ke depan.

Menariknya, saya justru tidak terlalu mengingat detail-detail jalannya sidang. Yang tersisa justru kesan bahwa suasana sidang berlangsung cukup santai. Saya menerima banyak masukan yang bersifat konstruktif dan positif, terutama terkait bagaimana meningkatkan kualitas tesis yang sedang saya tulis.

Setelah Sidang Pertama

Setelah sidang pertama selesai, perasaan yang muncul justru adalah kepuasan dan kelegaan. Bahkan sebenarnya, sejak momen saya resmi mendaftar sidang doktoral pertama, saya sudah merasa cukup tenang. Bagi saya, bisa mendaftar sidang ini sendiri sudah menjadi tanda penting bahwa saya berada di jalur yang benar dan memiliki peluang besar untuk lulus pada bulan Maret 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *