Keputusan melanjutkan program doktor
Artikel ini menceritakan pengalaman pribadi dalam mengambil keputusan melanjutkan program doktor setelah S2 di Jepang, termasuk tekanan kontrak, kelelahan mental, dan proses bertahan.
Setelah menyelesaikan student seminar pada Desember 2020 — seperti yang saya ceritakan di halaman sebelumnya — akhirnya saya bisa bernapas lega. Rasanya seperti beban besar terangkat dari pundak. Tapi belum sempat menikmati rasa lega itu, pembimbing saya tiba-tiba bertanya,
“Apakah kamu mau lanjut ke program doktoral?”
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, sampai saya hanya bisa terdiam. Sejujurnya, sejak awal memulai program magister, saya memang sudah punya rencana untuk lanjut ke doktor. Tapi setelah melewati berbulan-bulan riset yang melelahkan, saya mulai ragu. Saya ingin berhenti sejenak, berpikir ulang: apakah benar saya ingin lanjut? atau saya hanya merasa harus?
Ketika saya bilang ingin mempertimbangkan dulu, pembimbing saya langsung menjawab bahwa kalau saya tidak melanjutkan ke doktoral, maka perpanjangan kontrak saya untuk tahun depan akan ditinjau ulang. Beliau menjelaskan bahwa NIMS memang membuka program magister lewat NIMS-GRA Program untuk menjaring mahasiswa yang punya niat melanjutkan ke jenjang doktoral.
Mendengar itu, saya benar-benar kaget. Saya baru tahu kalau niat melanjutkan studi ternyata bisa memengaruhi kontrak. Saat itu, rasa takut langsung muncul — bagaimana kalau kontrak saya tidak diperpanjang? Saya masih ingin melanjutkan hidup dan belajar di Jepang. Akhirnya, meskipun masih ragu, saya memutuskan untuk lanjut ke program doktoral.
Belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya pembicaraan itu tidak sepenuhnya berkaitan dengan kontrak. Tapi di saat itu, saya tidak punya banyak pilihan. Rasa takut lebih besar daripada rasa ragu saya sendiri.
Akhirnya, libur tahun baru saya — dari akhir Desember 2020 sampai awal Januari 2021 — terasa berat. Otak yang seharusnya beristirahat setelah student seminar, malah terus bekerja memikirkan bagaimana caranya saya bisa bertahan. Saya bahkan sempat berpikir untuk bekerja paruh waktu kalau kontrak tidak diperpanjang, tapi itu jelas tidak realistis. Melakukan riset sambil bekerja paruh waktu akan sangat menguras tenaga dan waktu.
Jujur saja, waktu itu saya benar-benar kelelahan. Bukan cuma fisik, tapi juga mental. Saya merasa seperti kehilangan arah.
✨ Catatan kecil
Kalau sekarang saya menoleh ke masa itu, saya bisa tersenyum. Kadang, keputusan besar justru datang di saat kita sedang paling lelah.
Saya bersyukur akhirnya bisa menyelesaikan program doktoral tepat waktu, meskipun jalannya penuh tekanan. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa setiap proses berat selalu meninggalkan bekal berharga. Sekarang, setelah berhasil melewati masa-masa itu, saya merasa tidak perlu lagi takut akan tantangan baru. Karena kalau saya bisa menyelesaikan perjalanan doktoral itu, saya yakin — apa pun yang datang berikutnya, selalu ada cara untuk menemukan solusinya.
